Fiskal dan Tikus-tikusnya

Written on 17 January, 2007 – 12:25 | by Rahmat Zikri |

Kendala bagi kebanyakan orang dengan dana pas-pasan ketika hendak jalan-jalan ke luar negeri adalah beban biaya fiskal udara sebesar Rp 1 juta (catatan: fiskal laut/darat besarnya Rp 500 ribu) yang mesti dibayarkan oleh setiap penumpang pesawat yang hendak terbang ke luar negeri.

Walau sudah menjadi rahasia umum bahwa di terminal keberangkatan internasional (terutama yang saya tahu dengan persis yaitu di Terminal 2D/E Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta) banyak sekali terdapat “tikus-tikus” yang menawarkan jasa pembayaran fiskal “bawah tangan”. Biasanya penawaran dibuka sebesar Rp 800 ribu per penumpang. Angka ini bisa dinegosiasikan jika bayar borongan untuk beberapa orang secara bersama-sama. Oh ya, fiskal laut pun sama.. semua bisa dinegosiasikan (coba saja menyeberang dari Batam ke Singapura dengan ferry). Kapan negara ini mau maju kalau penggelapan uang negara terjadi di mana-mana.

Kong-kalikong tersebut sebenarnya urusan yang sangat mudah. Intinya sederhana, apakah petugas imigrasi yang tugasnya men-stempel paspor tanda keluar wilayah hukum Indonesia itu mau membiarkan anda lenggang-kangkung masuk ke ruang tunggu keberangkatan tanpa slip bukti pembayaran fiskal atau tidak. Cuma itu. Tidak akan ada pemeriksaan fiskal lainnya. Di sini lah peran si “tikus” yang akan mengurusnya. Sebagian untuk “tikus”, sebagian lagi untuk mas/mbak tukang stempel itu, dan, percayalah, pasti ada bagian untuk oknum-oknum lainnya.

Tanpa adanya koordinasi dan kontrol yang jelas antar instansi yang berwenang, yang bisa dengan ketat mengawasi jumlah penumpang WNI yang pergi ke luar negeri dan jumlah uang fiskal yang masuk, bisnis penggelapan uang fiskal ini tentu saja merupakan lahan yang sangat basah.

Perlu bukti? Coba saja tips berikut ini. Jika anda berkesempatan masuk ke dalam Terminal 2D/E Soekarno-Hatta, tepatnya di sekitar check-in desk, yang tentunya untuk sampai di sini anda harus punya tiket pesawat rute internasional –hehe, not really.. saya pernah masuk area ini melalui Terminal 2F, dengan tiket Garuda rute domestik– ambil lah satu posisi strategis yang memungkinkan anda terlihat dengan mudah, lalu berdiri lah di situ sambil memandang sekeliling, seperti orang yang tidak tahu harus ke mana atau hendak berbuat apa. Selama anda tidak bertampang dan bergaya aparat yang berwajib, dijamin, akan segera ada “tikus” yang menghampiri dan bertanya apakah anda sudah membayar fiskal atau belum? Selanjutnya, anda sudah tahu bukan?

Ups, hampir lupa, ternyata yang jadi “tikus” itu bukan hanya oknum-oknum berpakaian preman yang berbaur dengan penumpang –but they use ID card– tapi juga mbak-mbak yang ada di check-in desk itu juga bisa jadi turut ambil bagian dalam bisnis fiskal. Saya punya pengalaman ketika hendak check-in di salah satu desk penerbangan asing, mbaknya tanya, “mas sudah bayar fiskal?”, waktu saya bilang belum, dia pun dengan sigap berteriak memanggil seekor “tikus” sedikit nun jauh di sebelah sana, sambil mengatakan “mas ***, ini ada penumpang yang mau bayar fiskal!” halahhh.

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google