Mengapa Idul Fitri Bisa Berbeda Hari?

Written on 1 February, 2007 – 12:59 | by Rahmat Zikri |

Beberapa hari yang lalu saya membuat tulisan tentang bagaimana penanggalan hijriah dilakukan. Pada tulisan kali ini, saya akan mencoba mengulas masalah yang sering kali ditemukan hampir setiap tahunnya dalam penentuan hari raya umat Islam, yaitu Idul Fitri.

Umat Islam merayakan Idul Fitri setiap tanggal 1 Syawal, setelah sebelumnya melaksanakan ibadah shaum (puasa) selama satu bulan di bulan Ramadhan. Pada tanggal 1 Syawal, diharamkan berpuasa. Dalam pendapat pribadi saya, ini dimaksudkan untuk membedakan hari tersebut dengan hari-hari sebelumnya (selama bulan Ramadhan). Pada hari tersebut, umat muslim merayakan “kemenangannya” setelah berjuang mengekang hawa nafsu. Jadi, ya tidak boleh Nikmati rezeki yang ada.

Pada tulisan yang lalu telah disebutkan bahwa dalam sistem kalender hijriah, tidak ada kepastian mengenai jumlah hari dalam setiap bulannya. Berbeda halnya dengan kalender masehi. Kita sudah tahu dengan pasti, Januari itu ada 31 hari, Juni 30 hari, dsb. Bahkan kita juga bisa mengatakan dengan pasti bahwa nanti malam pada pukul 00:01 itu sudah berbeda tanggal dengan hari ini.

Jika pergantian tanggal –misal dari tanggal 1 Januari ke 2 Januari– pada penanggalan masehi bisa ditunjuk dengan jelas, yaitu setelah melewati pukul 00:00, pada penanggalan hijriah hal tersebut juga tidak memiliki kepastian antara satu hari dengan hari lainnya. Pergantian tanggal pada penanggalan hijriah adalah tepat pada saat matahari terbenam. Itulah tanggal baru.

Jumlah hari dalam setiap bulannya pada kalender hijriah tidak bisa dipastikan sebagaimana halnya penanggalan masehi, karena menyangkut beberapa ibadah keagamaan bagi umat Islam. Umat Islam diwajibkan untuk berpuasa ketika dipastikan bahwa bulan Ramadhan telah tiba. Umat Islam juga diwajibkan untuk tidak berpuasa jika telah dipastikan bahwa tanggal 1 Syawal telah masuk.

Dalam pendapat pribadi saya, kalender hijriah memiliki presisi tanggal yang jauh lebih baik dibandingkan dengan kalender masehi. Setidaknya kita tahu bahwa setiap 4 tahun sekali pada kalender masehi harus mengalami koreksi tanggal, yaitu dengan menambahkan jumlah hari menjadi 29 pada bulan Februari. Bahkan pernah pula terjadi penghapusan sekian hari dari kalender pada milenium pertama, sebagai bagian dari koreksi kalender. Kita juga “dengan terpaksa” percaya bahwa pada pukul 00:00 terjadi pergantian tanggal. Padahal, rotasi bumi yang menjadi dasar perhitungan 1 hari itu tidak persis 24 jam dalam sehari. Sedangkan perhitungan pada kalender hijriah bernilai tetap.

Yang saya maksud dengan bernilai tetap di sini adalah bahwa pergantian hari/tanggal dilihat/dihitung berdasarkan terbenamnya matahari. Sedang pergantian bulan (misal dari Ramadhan ke Syawal) dilihat/dihitung berdasarkan munculnya bulan sabit pertama kali. Untuk diketahui bahwa siklus penampakan bulan adalah dari bulan sabit – bulan purnama – bulan sabit kembali – lantas hilang (langit ‘tanpa’ bulan). Itulah siklus dari awal bulan sampai dengan akhir bulan pada penanggalan hijriah (lunar system calendar). Penampakan bulan sabit pertama kali di setiap awal bulan biasa disebut dengan hilal. Karena pentingnya penentuan hilal (bulan sabit pertama) ini-lah yang mungkin membuat lambang bulan sabit menjadi simbol umat Islam. Secara umum jumlah hari setiap bulannya pada kalender hijriah adalah 29 hari. Jika pada hari ke-29 hilal ini tidak dapat terlihat, maka jumlah hari pada bulan tersebut di-genap-kan menjadi 30 hari.

Sudah mulai terlihat poin-nya bukan? Masalah yang terjadi adalah kesepakatan bahwa apakah esok telah masuk ke 1 Syawal atau puasa kita genapkan menjadi 30 hari, sehingga 1 Syawal itu adalah esok lusa. Itu yang seringkali terjadi pada setiap tanggal 29 Ramadhan. Ini bukan hal yang sederhana bagi umat Islam. Karena menyangkut ibadah wajib. Jika yakin besok 1 Syawal, maka wajib baginya untuk tidak berpuasa. Namun, jika ternyata besok masih bulan Ramadhan (yang digenapkan menjadi 30 hari), dosa hukumnya jika dia tidak berpuasa.

Salah satu metoda penentuan awal bulan yang telah saya sebutkan di atas adalah dengan melihat langsung apakah bulan sabit pertama (hilal) telah terlihat pada hari ke 29 di bulan berjalan (misal Ramadhan) atau tidak. Metoda ini disebut juga dengan rukyat. Pengamatan bisa dilakukan secara langsung atau menggunakan alat bantu seperti teleskop. Namun, karena cara ini dilakukan dengan metoda visual, bisa saja pada saat melakukan pengamatan bulan sabit tersebut tidak terlihat, mungkin karena cuaca buruk (mendung/hujan) atau berawan, atau malah langit masih terlalu terang. Apa pun alasan ketidaknampakan hilal tersebut, dalam sudut pandang metoda rukyat diputuskan bahwa bulan tersebut digenapkan menjadi 30 hari.

Metoda lainnya yang bisa digunakan hisab. Yaitu metoda perhitungan awal bulan dengan cara matematis dan astronomis. Hisab dipakai untuk menentukan kapan dan di mana hilal bisa dilihat. Sehingga seringkali hisab juga dipakai sebagai awal untuk melakukan kegiatan rukyat. Ketertarikan umat Islam pada penentuan awal bulan ini juga lah yang memancing perkembangan teknologi berkembang pesat pada dunia Islam. Islam menjadi pengembang awal ilmu astronomi sebagai sains yang lepas dari ilmu astrologi.

Dalam proses penentuan Idul Fitri, terutama di Indonesia, yang saya lihat adalah kecenderungan untuk pro pada salah satu cara di setiap organisasi umat yang ada. 2 organisasi besar yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, sepertinya masing-masing berpedoman pada rukyat (NU) dan hisab (Muhammadiyah). Namun demikian, jika terdapat perbedaan hari hendaknya bukan menjadi perdebatan utama. Yang penting meyakini dengan sungguh-sungguh apakah hari esok adalah 1 Syawal atau bukan. Perbedaan tersebut sangat mungkin terjadi, apalagi kalau kita tahu bahwa penentuan tersebut merupakan hal yang sulit, mengingat sudut antara matahari dan bulan pada saat hilal yang memenuhi syarat sebagai awal bulan baru harus di atas 3o. Silahkan bayangkan sulitnya melihat/menentukan sudut sekecil itu.

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google