Penyelamatan Diri di Laut

Written on 25 February, 2007 – 14:59 | by Rahmat Zikri |

Kecelakaan pada kapal laut kembali terjadi. Kali ini menimpa KM Levina 1 yang berlayar dari Pelabuhan Tanjungpriok di Jakarta menuju pulau Bangka.

Pada setiap kecelakaan di laut, pelampung menjadi alat bantu yang akan sangat menolong. Salah seorang korban selamat pada kecelakaan KM Levina 1 dengan tegas mengatakan bahwa dia akan menyimpan pelampung yang tanpa sengaja dia temukan saat sempat terombang-ambing di laut tanpa satu pun alat penolong, karena dia menganggap bahwa benda tersebut telah menyelamatkan nyawanya. Siapa pun yang meminta, bahkan pihak pemilik kapal sekali pun, tidak akan diberikan.

Pelampung adalah alat bantu yang sangat berharga, terutama pada saat penumpang menjadi korban kecelakaan di laut dan harus berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Tapi tidak jarang jumlah pelampung yang tersedia tidak sesuai dengan jumlah penumpang yang diangkut. Bahkan kemarin saya melihat berita di televisi yang melaporkan bahwa ratusan kapal kecil yang beroperasi di Kalimantan Timur tidak dilengkapi oleh pelampung sama sekali.

Pada musibah KM Levina 1, ada berita mengenai penumpang yang merampas pelampung dari tangan penumpang lain yang sedang bersiap-siap terjun ke laut. Ada juga yang berusaha merebut pelampung yang dikenakan penumpang lain yang telah berada di dalam air! Berbeda dengan penumpang pesawat terbang, penumpang kapal laut nyaris sama sekali tidak pernah mendapatkan demo bagaimana cara menggunakan pelampung.

Jika penumpang pesawat terbang komersial umum selalu mendapat tontonan demo pramugari yang memeragakan cara memasang pelampung setiap kali hendak take-off, sebaliknya penumpang kapal laut belum tentu pernah melihat ada awak kapal yang menunjukkan cara memasang pelampung tersebut.

Oke lah cara pasangnya sebenarnya sederhana. Selama ini saya selalu melihat di kapal-kapal besar selalu ada gambar yang menunjukkan cara memakai pelampung. Tetapi menurut saya ada petunjuk yang tidak kalah penting tapi tidak pernah terlihat disampaikan. Petunjuk yang saya maksud adalah tata cara bagaimana meloncat ke dalam air dari atas kapal dalam keadaan sedang menggunakan pelampung.

Pada beberapa kejadian kecelakaan di laut, awak kapal bisa menyediakan tangga tali yang bisa dipakai oleh penumpang untuk turun dari kapal ke laut. Tetapi kali lain, bisa jadi tangga tali itu tidak tersedia atau penumpang memang mesti sesegera mungkin menceburkan diri ke laut.

Pada kondisi darurat seperti itu, bisa dipastikan akan ada penumpang yang nekat terjun langsung dari atas kapal ke laut yang tingginya bisa lebih dari 10 meter. Nah, yang jadi masalah, tidak pernah terlihat ada petunjuk bagaimana cara meloncat yang baik dan benar!

Ketika dalam kondisi mengenakan pelampung dan siap terjun, perlu diingat bahwa pelampung itu berisi material yang lumayan dengan ketebalan yang lumayan. Biasanya posisi terjun yang akan diambil adalah gaya paku menghujam bumi. Coba bayangkan. Ketika penumpang yang terjun ini mulai menjejakkan kaki di air, bagian bawah pelampung akan menghentak dengan keras, yang hampir bisa dipastikan akan menghajar rahang penumpang tersebut dengan keras pula. Hentakan tersebut bisa jadi akan mengakibatkan penumpang pingsan, yang malah berujung pada kematian (karena pingsan tadi). Lebih parah lagi, jika ketika terjun posisi mulut dalam keadaan terbuka (misal sambil berteriak). Bisa jadi hentakan keras tadi akan mengakibatkan lidah tergigit. Makin parah saja.

Nah, untuk mencegah hal-hal seperti itu terjadi, posisi cebur haruslah diperhatikan. Posisi yang baik adalah letakkan tangan kiri dalam keadaan terangkat dan terlipat di atas dada dan menahan bagian atas pelampung. Ini bertujuan untuk menahan benturan yang akan terjadi pada pelampung. Kemudian satu tangan lagi (tangan kanan) dipakai untuk menutup mulut dan hidung. Ini untuk meminimalisir jumlah air laut yang bisa masuk ke dalam mulut/hidung ketika tiba di air. Loncat lah ke dalam air dengan posisi tegak lurus, kaki di bawah, kepala di atas. Kedua kaki dirapatkan, untuk membentuk streamline.

Tambahan yang harus diingat baik-baik adalah, selama dalam air dan menunggu pertolongan tiba, jangan pernah meminum air laut, walau haus dahaga luar biasa. Meminum air laut sama sekali tidak akan menghilangkan haus, malah membuat tambah haus. Jika ada kesempatan, minumlah air hujan. Jangan mencoba melawan arus gelombang laut. Percuma. Sekali pun anda adalah atlet renang. Ini hanya akan membuang-buang energi dan jangan-jangan malah memperjauh lokasi anda dari titik kecelakaan (malah memperkecil peluang untuk ditemukan tim penolong). Ikuti saja ke mana gelombang laut membawa anda. Kalau memungkinkan, sebelum loncat ke laut bawalah makanan yang ada di sekitar anda. Hematlah makanan tersebut, sekedar agar ada yang bisa dipakai untuk mengisi perut. Jangan dimakan semua sekaligus, karena tidak ada jaminan segera bertemu dengan penolong.

Yang terakhir, jangan lupa banyak-banyak berdoa agar selamat dan memohon ampun.. Positive thinking bahwa pertolongan segera tiba. Karena motivasi itulah yang membuat anda bisa survive dalam kondisi seperti itu.

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google