Chusnul Mar’iyah Bebas

Written on 2 May, 2007 – 17:28 | by Rahmat Zikri |

Beberapa jam yang lalu ponsel saya berbunyi. Sebuah SMS masuk. Isinya “Alhamdulillah saya bebas”. Sebuah pesan singkat yang datang dari Ibu Chusnul Mar’iyah, anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, yang juga penanggungjawab masalah Teknologi Informasi di Pemilu 2004.

Walau hanya lewat pesan singkat, saya tahu, Ibu Chusnul pasti sedang tersenyum lebar. Selesai sudah satu masalah yang ngga bermutu untuk sampai menghabiskan waktu berlarut-larut. Masih banyak urusan negara yang jauh lebih penting untuk diselesaikan.


Kembali ke tahun 2004, pada masa-masa pelaksanaan Pemilu, terjadi satu insiden di hari Selasa malam, tanggal 13 Juli 2004, yang kemudian berujung pada tuntutan di pengadilan yang akhirnya baru saja selesai hari ini, Rabu, 2 Mei 2007. Buletin tentang kejadian di malam itu bisa di baca di sini.

Insiden tersebut terjadi pada sebuah acara talkshow seputar penggunaan teknologi informasi di Pemilu 2004. Kebetulan saat itu saya adalah salah seorang yang ikut duduk di atas forum, bersama-sama dengan Ibu Chusnul Mar’iyah sebagai anggota KPU Pusat/Penanggungjawab TI KPU, Pak Onno W. Purbo (praktisi, pakar TI –aseli, bukan gadungan–), Mas Basuki Suhardiman (Staf Ahli TI KPU), Pak Mahmur Suriadiredja (PT. Telkom); dan moderator Pak Erwin Ramedhan (dari kantor Menko Perekonomian).

Terus terang saja saya datang ke lokasi tersebut –di ballroom Hotel Borobudur, Jakarta– pada hari itu bukan untuk duduk di atas forum. Hampir setiap hari selama masa pemilu saya datang ke pusat tabulasi nasional yang kebetulan dikonsentrasikan di Hotel Borobudur. Buat saya, datang ke tempat ini bisa sekaligus refreshing setelah jenuh berada di ruang operator dan/atau ruang server di kantor KPU Pusat dan makan nasi pecel melulu :-p Selain itu, ada juga yang dikecengin, jadi bisa semangat datang dan datang lagi. Nah, tiba-tiba sekitar 30 menit sebelum acara di mulai, saya diminta untuk ikut naik panggung. Hwarakadah… saya cuma berkaos oblong, celana jeans dan sendalan. Tapi Ibu Chusnul memaksa saya untuk tetap naik. “Ngga apa-apa begitu”, katanya. Ya sudah.

Akhirnya acara pun di mulai. Di antara para hadirin, terdapat seorang selebriti TI, KRMT Roy Suryo Notodiprojo, yang pada waktu masa-masa pemilu sangat aktif berkomentar tentang TI KPU di mana-mana. Salah satu komentar legendaris buat saya adalah komentarnya yang mengusulkan implementasi TI KPU bisa dikerjakan dengan Microsoft Excel saja. Satu bukti akurat ke-asal-bunyi-annya. Karena kapasitas baris pada Excel hanyalah 65.535 baris. Sedangkan jumlah TPS di Indonesia ada lebih dari 600.000! Ngga mungkin pakai Excel.

Satu kalimat perkenalan menarik dari Kanjeng Raden Mas ke saya, waktu itu kalimat pembukanya adalah “Saya ngga kenal siapa itu mas yang pakai jaket yang duduk di ujung sebelah kanan”. Satu kalimat yang bertendensi angkuh, seakan semua yang boleh naik ke atas panggung adalah orang-orang yang sudah di-acknowledge oleh beliau. Kalau belum, dianggap tidak pantas. Ya biar saja-lah. Publik di ruangan itu jadi segera bisa menilai kualitas orang yang sedang berbicara toh.

Masalah segera di-mulai ketika KRMT Roy Suryo mempertanyakan beberapa hal yang segera dimentahkan oleh Pak Onno W. Purbo. “Sorry Roy, metodologimu itu salah dan datamu lemah. Roy Suryo sudah salah di tingkat metodologi. Roy mempersoalkan perubahan, padahal justru perubahan adalah esensi data komputer KPU.” Ketika Roy Suryo mempertanyakan Onno, yang malam itu tampil tidak seperti Kang Onno yang dia kenal (tampaknya Roy heran mengapa Onno membela KPU) maka dengan suara menggelegar menggelegar Onno menjawab: “Saya berdiri di sini untuk membela 17 ribu anak-anak saya. Saya telah mendidik mereka, dan mereka bekerja keras untuk pemilu ini. Saya tidak rela hasil kerja keras mereka dilecehkan.”

Bola panas berikutnya dilemparkan oleh Roy Suryo ke Ibu Chusnul, yang tiba-tiba turun dari panggung (yang kemudian diketahui bahwa beliau pergi ke belakang menuju toilet). Roy mengira bahwa Ibu Chusnul sengaja menghindari dirinya dan segudang pertanyaan yang ingin ditanyakannya di forum tersebut. Waktu itu Roy dengan lantang mengatakan: “Sebenarnya saya mau tanya kepada penanggung jawab TI KPU. Ke mana Ibu Chusnul? Apakah takut karena saya ingin bertanya?” Puncak persoalan yang dibawa ke pengadilan oleh Roy adalah ketika Ibu Chusnul kembali dari toilet dan segera menjawab dengan lantang juga: “Saya pernah dihujat selama 4 jam di Komisi II DPR. Apalagi hanya [dihujat dengan pertanyaan oleh] seorang Roy Suryo. It’s Nothing! Roy Suryo tidak pernah datang ke KPU untuk belajar TI, tetapi ia dapat bayaran yang besar dari omongannya tentang TI KPU. Saya menerima SMS bahwa Roy sedang mengumpulkan data tentang IT KPU dan kecurangan akan dijual ke salah satu calon yaitu Pak Wiranto. Jadi hati-hati jangan mau dibohongi”. Yang kemudian di tingkat pengadilan sempat dipermasalahkan oleh Roy, karena dianggap melecehkan dia. Aneh, jelas-jelas di situ yang dibilang adalah it is nothing, bukan he is nothing. Memangnya dia merasa sebagai benda? karena it merupakan kata ganti untuk benda. Lucunya, sampai membawa ahli bahasa sebagai saksi ahli di pengadilan. Tapi masalahnya yang dibawa adalah ahli Bahasa Indonesia. Padahal yang dipermasalahkan adalah kalimat ber-bahasa Inggris. Alhasil, sang ahli bahasa pun ditolak oleh majelis hakim, karena tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan.

Ada beberapa kalimat lainnya yang juga menjadi pokok persoalan tuntutan. Bikin pusing aja kalau diurusin. Menghabiskan energi. Singkatnya, banyak orang tahu bahwa kasus Roy Suryo vs Chusnul Mar’iyah naik ke level pengadilan, dengan tuntutan pasal 310, pencemaran nama baik.

Sejak awal, buat saya masalah itu sederhana saja. Jika orang tidak tahu sebab musababnya, hanya melihat sepotong kejadian pada malam itu, jelas bisa dengan mudah meyakini bahwa terdapat satu tindak pidana pencemaran nama baik. Melecehkan orang lain. Tapi jika kita mau melihat runtutan kejadian yang merupakan ‘prolog’ dari babak tersebut, yang merupakan satu-kesatuan sebagai hubungan sebab-akibat, dengan mudah pula kita dapat memahami latar belakang yang mengakibatkan fragment ini terjadi.

KRMT Roy Suryo, yang seorang sarjana lulusan Ilmu Komunikasi, FISIP UGM, sejak awal masa Pemilu Legislatif 2004 (5 April 2004), dengan gencar memberikan berbagai komentar miring mengenai TI KPU. Mulai dari tulisan-tulisan searah di milis (searah, karena tidak pernah terjadi debat/diskusi jika ada orang yang menanggapi tulisannya di milis) sampai dengan komentar-komentar yang dikutip oleh media. Komentar/kritik yang membangun tentu saja sangat baik. Tapi jika komentar itu komentar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya (misal soal ide penggunaan Excel –mungkin suatu saat saya akan membuat tulisan tersendiri mengenai komentar-komentar bombastis lainnya yang dengan mudah bisa saya patahkan–), hanya akan membuat kebingungan publik awam.

Bertubi-tubinya komentar sang “pakar” –entah siapa yang memulai mentasbihkannya sebagai “pakar”– tanpa ada manfaat terhadap perbaikan sistem karena komentar asal-asalannya itu, cukup membuat gerah. Puncaknya adalah ketika saling bertemu dalam forum yang terhormat di malam Rabu di bulan Juli 2004 itu.

Setelah melewati beberapa kali persidangan, saya sekali pun tidak sempat hadir. Pernah sekali saya bisa menghadirinya, tapi ternyata sidang hari itu ditunda jadi minggu depannya. Sayang sekali, karena saya tidak bisa memenuhi undangan Ibu Chusnul sebagai terdakwa untuk berdiri di depan sidang sebagai saksi. Untungnya hasil akhir yang tadi siang dibacakan menyatakan bahwa Ibu bebas dari tuntutan.

Tuntutan bebas yang dibacakan tadi siang beralasan bahwa Ibu Chusnul ketika itu berdiri di depan forum untuk membela kepentingan umum. Apa jadinya jika komentar-komentar ajaib soal pelaksanaan TI dari seorang “pakar” dengan tanda kutip dianggap sebagai sebuah kebenaran di publik tanpa ada yang meluruskan.

Majelis hakim juga melepaskan segala tuntutan hukum terhadap terdakwa (Ibu Chusnul Mar’iyah), memulihkan hak terdakwa serta martabatnya, dan membebankan biaya perkara pada negara. Detail baca di sini.

Argghh, membaca kembali cerita-cerita di masa Pemilu 2004 ternyata mengembalikan banyak kenangan manis di seputar Menteng-Lapangan Banteng. *wink*

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google