Minta Oleh-Oleh

Written on 16 May, 2007 – 10:28 | by Rahmat Zikri |

Entah dari mana asal-usulnya, orang Indonesia punya ‘penyakit’ khas Indonesia yang ngga ada di negara lain… minta oleh-oleh .. Hehehe. Percaya atau ngga, ‘penyakit’ ini ngga ada di tempat lain. Bahkan di kamus pun kita akan kesulitan mencari padanan kata oleh-oleh dalam bahasa asing. Sedikit melenceng, orang Indonesia juga punya penyakit aneh lainnya, masuk anjing, eh, masuk angin :))

Entah siapa yang memulai dan sejak kapan, orang Indonesia paling ngga bisa lihat atau tahu ada kenalan atau saudaranya yang akan bepergian ke luar kota, apalagi kalau ke luar negeri. Semacam sudah ada standard operation procedure rutin dalam otak orang Indonesia, pasti akan segera bilang: “jangan lupa oleh-olehnya yaaa!”

Entahlah karena tidak kreatif, atau sebenarnya di bawah sadar merupakan pengulangan terhadap peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya sendiri, ada banyak hal yang merupakan standard operation procedure menjemukan pada komunikasi orang Indonesia. Selain kalimat wajib minta oleh-oleh di atas, orang Indonesia sudah terbiasa melakukan standard operation procedure untuk banyak hal lainnya. Misal, jika bertemu dengan saudaranya yang masih kuliah, pertanyaan tidak kreatifnya adalah “kapan lulus?”, setelah lulus, pertanyaan berikutnya adalah “kapan nikah?”, nanti setelah nikah, pertanyaannya adalah “kapan punya anak?”.

Pada tulisan kali ini, pengkhususan yang saya bahas adalah pada kalimat “jangan lupa bawain oleh-oleh yaaa”. Sebuah kalimat yang secara pribadi mungkin sudah tidak pernah saya ucapkan lagi selama bertahun-tahun terakhir ini.

Pengharaman pengucapan kalimat di atas adalah sebagai pengejawantahan sikap empati saya ke orang yang akan melakukan perjalanan ke luar kota atau ke luar negeri. Coba posisikan diri anda sebagai orang yang melakukan perjalanan tersebut. Apakah anda akan dengan senang hati menghabiskan waktu dan tenaga untuk sibuk mencari berbagai pesanan puluhan orang yang telah menitipi anda segudang daftar oleh-oleh dan mengabaikan agenda utama anda berjalan ke luar kota atau luar negeri tersebut? Padahal waktu anda terbatas. Tentu tidak bukan?

Bukannya anti terhadap oleh-oleh. Pada kondisi tertentu, sebenarnya senang-senang saja bisa membagi kebahagiaan dengan membawakan oleh-oleh. Saya pun dengan senang hati akan menerima setiap oleh-oleh yang diberikan oleh siapa pun. Tapi yang terpenting adalah bukan memberatkan apalagi merepotkan. “Gua titip ini yaaâ”, “Akyu dibeliin anu yaa”, Kecuali anda berminat mengganti sebagian atau seluruh ongkos tiket perjalanan tersebut. Hahaha.

Problem lain yang jarang sekali disadari oleh para penderita penyakit “minta oleh-oleh” adalah tidak terbiasa berpikir dengan kurs. Selain sikap ego –merasa hanya dirinya saja yang bakal nitip oleh-oleh– penderita penyakit ini yang lupa dengan kurs kadang bersikap membahayakan kredibilitas diri sang traveller. Tanpa berpikir panjang berapa harga barang yang dititipi, bisa dengan segera mengklaim temannya yang tidak membawakan oleh-oleh sebagai orang pelit. Tanpa pernah membayangkan bahwa biaya hidup di tempat tujuan tersebut bisa berkali-kali lipat daripada biaya hidup di Indonesia. Apa jadinya jika sebuah kaos ‘murahan’ seharga USD 50 diborong untuk oleh-oleh buat orang sekampung?

Saya pernah terkaget-kaget melihat ongkos parkir per ½ jam di Amerika Serikat seharga USD 7! Dengan harga segitu, di Jakarta sudah cukup untuk ongkos parkir mobil sehari-semalam!!! Parkir selama 24 jam di Seattle (U.S) seharga l.k USD 26, atau sekitar Rp 250.000,00. Wow. Tapi ternyataaa, di Tokyo bisa 2x lipat dari situ. Tarif parkir nginap bisa mencapai ½ juta rupiah. Kali ini w nya banyak. Wooowwwwwwwwwwww….

Tokyo memang termasuk salah satu kota termahal di dunia. Tapi ternyata, orang Tokyo juga bisa “minta ampun” dengan mahalnya harga/biaya hidup di Paris. Saya ngga tahu lagi deh mau nulis wow dengan o dan w sebanyak apa. Yang jelas, kerangka berpikir dengan cara perbandingan (kurs) seperti ini nyaris tidak pernah dipikirkan oleh banyak orang Indonesia yang terkena penyakit “oleh-oleh”.

Sebenarnya buat saya masalah harga barang adalah masalah nomor tiga. Walau signifikan sebagai masalah juga, tetap saja buat saya ini ada di nomor tiga. Alasan pertama adalah alasan waktu. Dalam waktu perjalanan yang terbatas, misal hanya dalam waktu 2-3 hari, dengan berbagai agenda yang sudah direncanakan, tentunya saya tidak berharap kenyamanan pribadi saya dalam menjalankan berbagai agenda dan juga acara terganggu oleh kewajiban mengejar berbagai daftar tunggu yang mesti dibawa pulang ke Jakarta. Kecuali, sekali lagi, anda berminat untuk menanggung sebagian atau syukur-syukur seluruh biaya perjalanan tersebut. Your wish is my command. For sure. Hihihi.

Alasan yang menjadi masalah nomor dua buat saya adalah kepraktisan. Jangankan untuk membawakan oleh-oleh buat orang lain, membawa barang sendiri pun sebenarnya kalau bisa ngga ada yang dibawa. Lenggang kangkung aja deh. Dari jaman kuliah dulu, setiap kali hendak kembali ke Bandung setelah mudik ke rumah orangtua di Bandarlampung saya selalu menolak untuk membawa berbagai perbekalan logistik. Repot bawanya. Cash is better. And valuable for everything. Indeed.

Sekali lagi, sebenarnya oleh-oleh sah-sah saja. Mungkin sudah menjadi tradisi di Indonesia. Tapi yang terpenting adalah sikap empati orang yang minta oleh-oleh. Jangan sampai memberatkan orang yang dititipi. Baik itu memberatkan dalam hal waktu, biaya, apalagi barangnya memang benar-benar berat secara fisik. Dijamin 100% benar-benar berat dan lagi memberatkan.

Pastikan bahwa oleh-oleh yang hendak diminta –atau barang yang nitip beliin— gampang untuk ditemukan. Jangan lupa juga basa-basi, “kalau ngga nemu ngga apa-apa”. Jadi orang yang dititipi tidak mendapatkan beban moral untuk menghabiskan waktu mencari amanah yang dititipkan padanya. Juga sangat bijak jika memberikan penggantian biaya pada barang tersebut, kecuali jika yang dititipi menolak. Pastikan pula bahwa ukuran dan beratnya tidak menyusahkan orang yang dititipi. Camkan dalam-dalam di hati, bahwa sangat mungkin anda bukan satu-satunya orang yang nitip oleh-oleh. Harap amat sangat diingat bahwa ukuran dan berat bagasi sangat diperhatikan dengan ketat di banyak bandara di luar negeri. Kelebihan berat bagasi bisa berharga sangat mahal untuk ukuran kantong orang Indonesia. Saya pernah mengalami overweight bagasi di bandara Narita, Tokyo, seberat 6KG (dari jatah yang hanya 20KG untuk penerbangan dalam Asia menggunakan salah satu maskapai milik Amerika). Mau tahu berapa ongkos kelebihan berat sebesar 6KG tersebut yang mesti dibayar? Hampir 20.000 yen, atau sekitar 1,6 juta rupiah!!!

Pengecualian yang mungkin bisa ditolerir selain barang yang mudah didapat, tidak berat dan tidak mahal adalah titipan dari orang-orang yang dicintai, atau juga orang-orang yang secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan perjalanan tersebut. Misalnya, saya akan dengan senang hati dan sukarela bahkan cenderung pro-aktif menawarkan jasa membawakan oleh-oleh atau barang titipan untuk orang yang telah menyediakan tumpangan menginap dan/atau transportasi/makan selama saya berada di luar kota atau luar negeri. Untuk ini, hitung-hitung simbiosis mutualisme namanya.

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google