Kangen Band

Written on 28 May, 2007 – 09:39 | by Rahmat Zikri |

10 hari yang lalu, ketika pulang mudik dalam rangka hari ultah Ibu di Bandarlampung, ada satu gosip menarik yang saya dengar dari beberapa keponakan. Sebuah grup band indie label asal Lampung saat ini tengah naik daun di belantika musik nasional.

Mungkin kena tulah karena beberapa waktu yang lampau mereka cekikikan setelah melihat gaya para ABG di kota Banjarmasin yang terkena wabah dandan ala grup band Radja, yang notabene berasal dari kota air tersebut (nama belakang vokalis grup band ini –Ian Kasela– bahkan berasal dari kata Kalimantan Selatan). Bulan Desember tahun lalu pun saya juga menyaksikan sendiri di Banjarmasin, di mana-mana banyak yang berdandan ala Radja. Kalau di mal sih ngga usah ditanya lagi. Lagu-lagu dari album Radja sepertinya diputar di mana-mana.

Nah celakanya kali ini ternyata giliran kampung halamannya sendiri, Bandarlampung. Tiba-tiba saja sebuah grup band yang tadinya hanya merekam lagu-lagunya secara swadaya (indie label) meroket sampai menembus peringkat 10 besar MTV Ampuh. Kalau tidak salah juga sudah meraih platinum untuk rekor penjualan album perdana mereka ini.

Sepengetahuan saya memang dalam 1-2 tahun terakhir sepertinya banyak beredar rekaman-rekaman berlabel indy dari grup-grup musik di Propinsi Lampung. Ketika mudik di bulan-bulan sebelumnya, kadang secara acak saya dengarkan juga dua atau tiga lagu. Lumayan. Setidaknya untuk ukuran rekaman indy. Walau demikian, tetap tidak ada yang menarik perhatian saya secara khusus. Karena secara pribadi standar lagu yang masuk dalam kategori first list saya adalah lagu-lagu yang liriknya puitis dan romantis, tapi ngga cengeng. Dewa dan Padi adalah contoh yang baik untuk hal selera pribadi saya. Walau sedikit melankolis seperti Ada Band dengan Dony sebagai vokalisnya juga masih bisa ditolerir.

Ketika mendengar kabar bahwa ada grup band Lampung yang tengah naik daun, kaget juga. Kangen Band. Begitu namanya. Tapi sebenarnya yang bikin lebih kaget lagi adalah ketika mengetahui tampang personil-personilnya dan latar belakangnya.

Bukan. Saya ngga ngga bilang jelek-jelek. Oh iya, tapi saya juga ngga bilang ganteng-ganteng. Hahaha. Tapi setidaknya jika dibandingkan dengan band-band papan atas di negeri ini, bisa dengan tegas saya jawab bahwa mereka tidak bisa bersaing dengan menjual tampang. Bandingkan dengan Ada Band atau Peterpan misalnya. Bukan hanya lagunya yang bagus-bagus, tapi juga wajah yang bisa dijual. Jangankan di dalam negeri, di negara jiran macam Singapura dan Malaysia pun penggemarnya ada di berbagai pelosok. Kegantengan adalah salah satu faktor yang membuat mereka sangat populer.

Terlepas dari urusan ganteng atau tidak, hal yang paling menarik dari grup band ini adalah latar belakang ekonomi keluarga personil-personilnya yang berasal dari kelas ekonomi bawah. Saya ngga hapal satu per-satu. Tapi yang jelas ada yang anak seorang penarik becak, ada yang jualan es, jualan nasi uduk dan sebagainya. Bahkan sebelum jadi tenar seperti sekarang, kalau tidak salah personil yang juga jadi juru bicara band ini –yang bernama Dodhi– pernah pula melakoni pekerjaan sebagai kuli!

Dengan usaha dan kerja keras –dengan kondisi ekonomi yang seperti itu– adalah sebuah pencapaian yang luar biasa, bukan hanya bagi mereka, tapi juga bagi semua orang dari semua kalangan. Ini adalah sebuah motivasi positif bagi siapa pun, bahwa jika ada kemauan dan usaha yang keras, apa pun bisa dicapai.

Menjadi sebuah preseden buruk ketika ada sebuah komentar miring dari David –vokalis grup band Naif– yang mengatakan Kangen Band “ngga mutu!”. Kesalahan di sini adalah salah menempatkan kelas. Walau berhasil meraih platinum, saya pribadi pun belum sepakat untuk menyebut bahwa band ini telah masuk ke jajaran band papan atas. Bukan tandingannya Naif.

Tapi terlepas dari hal tersebut, ucapan semacam itu merupakan kontra-produktif yang bisa menjatuhkan semangat seseorang. Buat seorang kuli, tukang es atau tukang apa pun yang sekelas, bisa menjadi tenar di tingkat nasional adalah sesuatu yang luar biasa. Yang sekolahnya tinggi saja belum tentu bisa. Memberikan motivasi positif mestinya jauh lebih baik agar bisa memacu kreativitas yang lebih baik lagi. Semoga saja gara-gara dibilang “ngga mutu” malah akhirnya bikin lagu yang jadi jauh lebih bermutu.

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google