Kenangan Dengan Buya Hamka

Written on 19 February, 2008 – 15:32 | by Rahmat Zikri |

Beberapa hari yang lalu ada sebuah tablig akbar memperingati 100 Tahun Buya Hamka, bertempat di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru – Jakarta.

Ya, seandainya beliau masih diberi umur panjang sampai hari ini, umurnya telah mencapai 100 tahun. Buya Hamka dilahirkan di Maninjau (Sumatera Barat), 16 Februari 1908.

Buya Hamka adalah salah seorang ulama besar yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Selain sebagai ulama, juga seorang sasterawan yang besar pula. Beberapa karya novelnya termasuk karya yang legendaris (seperti: Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah).

Nama Hamka, berasal dari singkatan nama beliau, Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Mungkin untuk menyingkat penulisan identitas pada karya-karya sasteranya, digunakanlah nama HAMKA.

Sebenarnya tidak banyak kenangan saya dengan beliau. Karena buya telah dipanggil Yang Maha Kuasa pada 24 Juli 1981, pada waktu yang sama usia saya pun barulah 6,5 tahun.

Pada sebuah kesempatan kunjungan kerja beliau di Lampung, entah bagaimana ceritanya, yang saya tahu beliau menginap di rumah orangtua saya. Jelaslah, pada hari-hari tersebut saya dan buya tinggal se-atap. Hal yang tidak saya lupakan adalah rumah saya jadi kebanjiran orang-orang yang ingin bertemu. Waktu itu saya sangat menikmati keramaian yang ada. Tiba-tiba saja rumah yang biasanya tanpa penjaga, mendadak ditunggui oleh beberapa orang Hansip, siang dan malam.

Sebagai seorang bocah –kalau tidak salah peristiwa tersebut terjadi di tahun 1980, ketika saya berumur 5 tahun– saya jelas tidak memahami kesibukan aktivitas orang-orang semacam Buya Hamka, yang jelas-jelas pasti memiliki banyak sekali agenda yang mesti dilakukan ketika berkunjung ke Lampung. Tapi yang jelas, sepertinya buya punya perhatian yang luar biasa untuk meladeni anak ingusan seperti saya. Buktinya, dalam perkenalan singkat selama beliau menginap di rumah, saya merasa sangat dekat dengannya.

Saking dekatnya, saya ingin buya tinggal lebih lama lagi di rumah. Ketika beliau mengatakan harus pulang ke Jakarta karena mesti bekerja, serta-merta saya pun menyiapkan sebuah travelling bag untuk ikut beliau ke Jakarta! Sebuah foto ukuran 10R yang tersimpan di album keluarga di rumah cukup bercerita tentang hal ini. Foto saya berdampingan dengan Buya Hamka dan diapit oleh ayah dan mami (begitu saya memanggil kedua orangtua saya), plus salah seorang kakak. Di foto ini, saya memegang erat tas yang berisi pakaian, siap ikut ke Jakarta.

Bukan cuma Buya yang bingung, orangtua saya pun jadi kewalahan. Akhirnya dipakailah penyelesaian secara “tipu-tipu”.. Setelah gagal membujuk saya agar membatalkan acara ikut pulang ke Jakarta, akhirnya travelling bag tersebut dimasukkan ke mobil yang dibawa oleh Buya dan staf nya (saya lupa, apakah ini staf, anaknya, atau supir.. I didn’t really care about this). Setelah saya merasa pasti ikut, karena tas sudah di mobil, pengawasan ‘melekat’ saya atas Buya pun mengendur.

Alih-alih ingat bahwa saya mesti memperhatikan setiap gerak-gerik Buya, kalau tidak salah saya terkecoh dengan bujukan lain. Sialnya ketika sadar terkena “tipu muslihat”, Buya sudah tidak ada. Hehe.. Sedih sekali.

Sampai suatu ketika akhirnya ibu mengajak ke Jakarta dan mengunjungi kediaman Buya Hamka di dalam kompleks Masjid Al Azhar, Jakarta. Kalau tidak salah ini terjadi pada tahun 1981, beberapa bulan sebelum beliau wafat. Yang saya ingat, saya cukup senang bertemu lagi dengan beliau dan gantian mengunjungi rumahnya. Dan ketika itu di sana saya justru sibuk bermain mobil-mobilan yang baru dibeli (kalau tidak salah beli di Blok M) di halaman rumahnya! (ternyata sebagai bocah saya masih jauh lebih tertarik dengan mainan).

Membaca kembali biografi Buya Hamka di koran, buku atau Internet, saya melihat sebuah path yang sama yang dilalui oleh orangtua saya, khususnya ibu. Mulai dari aktivitasnya di Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) sampai Muhammadiyah. Ngga heran kalau mungkin sebenarnya orangtua saya adalah murid sekaligus pengagumnya, sehingga ketika di Lampung pun buya memilih tinggal di rumah saya ketimbang fasilitas yang mungkin ada dari pemerintah daerah (kecuali Hansip yang akhirnya ronda di rumah).

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google