Kolaborasi qmail dan Microsoft Exchange Server

Written on 13 March, 2008 – 23:39 | by Rahmat Zikri |

Pada sebuah project di akhir 2003, saya sempat mempunyai ide untuk mengkolaborasikan salah satu produk email server di atas platform Unix yang cukup populer, yaitu qmail (note: penulisan yang benar memang qmail dengan huruf kecil semua), agar bisa di-‘harmonisasi’-kan di dalam environment domain Windows.

Ketika itu, pilihan qmail sebagai alternatif (bukan Mail Transfer Agent yang lain) karena qmail bisa dikonfigurasi untuk dapat melakukan autentikasi dan juga penyimpanan atribut menggunakan LDAP (Lightweight Directory Access Protocol). Secara konseptual, apa yang dilakukan oleh qmail + LDAP mestinya sama dengan apa yang dilakukan oleh produk serupa milik Microsoft, yaitu Exchange Server (versi 2000 ke atas) yang berkolaborasi dengan Active Directory (directory services milik Microsoft yang ‘kebetulan’ menggunakan standar LDAP juga).

Kalau begitu, secara logika bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa bisa saja qmail di server yang menggunakan Unix (atau pun Linux tentunya) melakukan autentikasi user dan menyimpan atribut-atributnya di sebuah Active Directory database yang terdapat di Windows Server!  Mengapa harus ‘dibelokkan’ ke Active Directory? Tidak bisa dipungkiri pada saat ini banyak sekali sistem jaringan yang bergantung pada sistem Microsoft, bahkan sampai level desktop. Di sini sebenarnya ada banyak sekali fitur menarik yang bisa dikembangkan. Hanya saja memang tidak semua orang tahu. Bahkan tidak sedikit yang sudah antipati terlebih dahulu tanpa pernah mau mengenal lebih dalam. Jika kita bisa ‘memaksa’ sistem semacam qmail untuk ‘berbelok’ menggunakan Active Directory, itu artinya user hanya perlu mengingat satu username dan password miliknya yang ada di Active Directory. Dengan username dan password yang sama, user bisa mengakses semua sub-sistem yang ada di dalamnya, termasuk qmail!

Ide dasar semua ini sebenarnya sederhana, memaksa qmail ‘menggantikan’ peran Microsoft Exchange Server sebagai Mail Transfer Agent pada environment Microsoft Windows. Sejujurnya, peran Exchange Server memang tidak bisa di-substitusi oleh qmail 100%. Fitur yang ditawarkan oleh Exchange Server tidak hanya terbatas pada peran sebagai email server. Hal ini lah yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang. Alhasil, ketika mengetahui harga lisensi yang harus dibayar per-user yang menggunakan Exchange Server terbilang mahal, banyak orang jadi makin enggan menggunakannya.

Secara pribadi jika diminta memilih saya akan pilih Exchange Server. Ada banyak fitur yang sangat berguna yang bisa dimanfaatkan. Misal bagaimana mudahnya mencari jadwal meeting terbaik bagi beberapa orang di dalam sebuah kantor, melihat status free/busy rekan sekerja, melakukan resource booking, sinkronisasi kalender dengan berbagai device (termasuk handphone). Bisa diakses dari mana pun. Dan segudang fitur lainnya. Apalagi jika kita mau melihat roadmap ke depan dari produk ini, arah yang dituju adalah implementasi Unified Communications. Di mana berbagai moda komunikasi yang ada (seperti email, telepon, faks, instant messenger, dsb.) bisa saling silang satu dengan lainnya.

Tapi memang, sekali lagi, biaya lisensi per orang yang akan menggunakannya itu tidak bisa dibilang murah. Di saat yang bersamaan, tidak semua orang pula membutuhkan berbagai manfaat tersebut. Ada banyak orang yang hanya membutuhkan email. Hanya sebuah email yang berdomain resmi kantornya, misal nama.seseorang@contoso.co.id.

Baru beberapa saat saya mulai mempelajari skema LDAP yang diimplementasikan di qmail, tiba-tiba saya diminta membantu implementasi Pemilu 2004, tepatnya di awal bulan Februari 2004. Sibuk terlibat dalam pesta akbar politik di sepanjang tahun 2004 membuat saya melupakan ‘riset’ yang baru mulai saya rintis. Setelah tahun 2004 pun ternyata saya tetap ‘melupakan’ PR tersebut.

Di awal tahun 2008, tepatnya bulan Januari lalu, saya kembali ter-‘trigger‘ untuk kembali membuka ide lama tersebut. Walau tidak persis sama, menurut saya kali ini idenya jauh lebih menarik. Bagaimana caranya membuat dua buah sub-sistem yang berbeda, dalam hal ini qmail dan Exchange ada di dalam satu environment bersama! Tepatnya, bagaimana caranya agar sebuah domain email –semisal @contoso.co.id– diurus oleh kedua sistem tersebut sekaligus. User yang memang membutuhkan fitur-fitur yang hanya bisa dipenuhi jika menggunakan Microsoft Exchange ‘terpaksa’ di-create di Exchange. Sedangkan user yang hanya membutuhkan email cukup dikonfigurasi di qmail! Dengan cara seperti ini penghematan biaya lisensi user yang mesti dikeluarkan lumayan besar. Bayangkan saja, jika sebuah perusahaan yang memiliki 2.000 orang pegawai ‘terpaksa’ meng-‘email’-kan semua usernya di Exchange, dan jika lisensi 1 user anggap saja USD 100, untuk lisensi saja sudah berapa? Padahal pada umumnya pegawai non level manajemen tidak terlalu membutuhkan fitur-fitur selain sekedar sebuah mailbox.

Minggu lalu, pada sebuah implementasi demo Unified Communications di sebuah BUMN yang bergerak di jasa penerbangan nasional dan internasional, bentuk ‘kolaborasi’ antara qmail dan Exchange ini berhasil saya konfigurasi. Dengan menggunakan nama domain email yang sama, sebagian besar user tetap berada pada sistem yang telah established selama ini menggunakan qmail dan sebagian user dikonfigurasi pada Exchange agar dapat memanfaatkan berbagai fitur. User-user yang terdapat di kedua sisi ini bisa saling berkomunikasi via email secara internal maupun ke Internet.

Sampai di sini, qmail dan Exchange masih ‘mengurus’ user-nya sendiri-sendiri. Dalam pengertian bahwa user yang mailbox-nya ada di qmail didefinisikan di Unix based, sedang user yang ada di Exchange adalah user yang ada di domain Active Directory. Dualisme ini membuat user yang ada di qmail ‘terpaksa’ memiliki 2 username dan 2 password jika mereka juga ingin bisa login di domain-based Active Directory.

Pada saat ini saya sudah mempunyai gambaran dan arah jalan ‘research’ lanjutan, yaitu bagaimana caranya agar user yang seharusnya didefinisikan pada Unix bisa ‘didelegasikan’ ke Active Directory. Dengan demikian, user yang emailnya terdapat di Unix-based pun bisa menggunakan username dan password yang sama dengan yang dipakainya jika hendak mengakses jaringan berbasis Windows. Dibanding kondisi 5 tahun yang lalu, kondisi teknologi yang ditawarkan pada saat ini jelas lebih maju dan lebih memudahkan dan memungkinkan apa yang saya bayangkan itu terjadi. Insya Allah, sebelum tahun 2008 berakhir saya punya cukup waktu untuk mencoba mewujudkannya.

Pada implementasinya, kolaborasi Exchange ini tidak mesti dilakukan dengan qmail saja. Bisa saja menggunakan subsistem lainnya, apakah itu Postfix, Sendmail dan sebagainya. Platform Unix nya pun bisa macam-macam, berbagai famili Unix based seperti FreeBSD, dsb. sampai macam-macam varian Linux.

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google