Ahmadiyah dan Kebebasan Beragama

Written on 5 June, 2008 – 11:28 | by Rahmat Zikri |

Hari minggu kemarin, 1 Juni 2008, serombongan massa yang diidentifikasi sebagai FPI (Front Pembela Islam) menyerang dan membubarkan aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh AKK BB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan). Pada malam harinya, saya mendengar keterangan bahwa aksi pembubaran tersebut dilakukan oleh Komando Laskar Islam, di mana FPI hanyalah salah satu elemen di bawahnya.

Sejatinya, jika melihat namanya, AKK BB, sudah barang tentu unjuk rasa yang dilakukan di lapangan Monas (info lain mengatakan bahwa di sana mereka hanya berkumpul, unjuk rasa baru akan dilakukan di Bunderan HI) ini bertujuan membela Ahmadiyah. Karena beberapa waktu terakhir mereka (AKK BB) adalah kelompok orang yang tidak mendukung pembubaran Ahmadiyah (oleh Pemerintah RI melalui Surat Keputusan Bersama). Sesuai dengan namanya, AKK BB menganggap Ahmadiyah layak untuk dipertahankan, tentu dengan alasan kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Dalam hal terjadinya peristiwa Monas hari minggu lalu, saya tidak secara spesifik memihak pada FPI/KLI dan juga tidak ke AKK BB. Semua pihak tersebut punya kontribusi terhadap terjadinya kerusuhan tersebut. Hal yang membuat acara "berkumpulnya" AKK BB di lapangan Monas pun menjadi rancu karena ada yang mendompleng dengan mengatakan bahwa itu adalah peringatan hari kelahiran Pancasila, ada juga yang membonceng dengan isu kenaikan BBM. Tapi memang kalau mau fair, apa urusannya kebebasan beragama dan berkeyakinan dengan BBM?

Ajaran Ahmadiyah Yang Dianggap Sesat

Syarat menjadi Islam (muslim) jika disarikan sederhana saja, termaktub dalam rukun Islam yang ada 5; salah satunya adalah membaca dua kalimat syahadat (yang artinya: tidak ada tuhan yang layak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah); dan juga pada rukun iman yang ada 6; diantaranya beriman kepada Allah, kitab-kitab dan rasul-rasul-Nya.

Pada Alqur’an dan hadis juga tersirat dan tersurat bahwa tidak ada lagi nabi/rasul setelah Muhammad SAW. Alqur’an juga disebut sebagai kitab yang sempurna sepanjang masa (sampai detik ini pun tidak ada hal duniawi yang pernah bertentangan dengan isi Alqur’an; termasuk dunia medis atau bahkan ruang angkasa yang tentunya dulu sangat jauh di awang-awang).

Secara singkat, ajaran Ahmadiyah yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di Punjab, India, pada tahun 1889. Yang menjadi pokok utama persoalan atas tuntutan pelarangan ajaran Ahmadiyah adalah karena mereka menganggap bahwa pemimpinnya (sang pendiri) adalah nabi/rasul. Dari penjelasan singkat pada tulisan saya di 2 paragraf di atas, hal ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Bahwa tidak ada nabi/rasul setelah Rasulullah Muhammad SAW. Dalam kepercayaan kaum Ahmadiyah, nabi yang wajib di-imani ada 26 (25 pertama sama persis seperti nabinya umat Islam, ditambah ‘nabi’ Mirza Ghulam Ahmad).

Ahmadiyah juga mempunya kitab suci sendiri, yang bernama Tadzkirah. Kitab ini merupakan kumpulan ‘wahyu’ yang diturunkan ‘Tuhan’ kepada sang ‘nabi’, Mirza Ghulam Ahmad. Kitab ini lebih tebal dari Alqur’an. Jika rukun iman mewajibkan umat Islam mengimani 4 buah kitab Allah: Taurat, Zabur, Injil dan Alqur’an; maka Ahmadiyah mengimani 5 buah, tentu ditambah dengan Tadzkirah. Selain itu, mereka juga mempunyai tanah suci sendiri, tempat menunaikan ibadah haji di India. Lagi-lagi tentunya bertentangan dengan Rukun Islam.

Walau, berdasarkan ensiklopedi Wikipedia disebut bahwa tujuan pendirian Ahmadiyah (oleh Mirza Ghulam Ahmad) adalah untuk menghidupkan Islam dan menegakkan Syariah Islam. Ahmadiyah bukanlah sebuah agama baru. Pengikut-pengikutnya mengamalkan Rukun Islam dan Rukun Iman.

Keberadaan Ahmadiyah di Indonesia

Ahmadiyah pertama kali masuk ke Indonesia  pada tahun 1925. Akan tetapi ternyata terdapat 2 (dua) kelompok Ahmadiyah (hal serupa juga terjadi di belahan dunia lain). Dua kelompok ini memiliki perbedaan prinsip yang mendasar.

  1. Ahmadiyah Qadian. Di Indonesia dikenal dengan nama Jemaat Ahmadiyah Indonesia (organisasi ini berpusat di Bogor). Kelompok inilah yang mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi. Tentu juga dengan segala hal yang tersebut pada bagian-bagian ajaran Ahmadiyah yang dianggap sesat.
  2. Ahmadiyah Lahore. Di Indonesia dikenal dengan nama Gerakan Ahmadiyah Indonesia (organisasi ini berpusat di Yogyakarta). Kelompok yang kedua ini tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Seperti halnya saudara muslim yang lain, mereka mengakui bahwa Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Hal yang tentunya sangat fundamental sebagai akidah Islam.

Problematika Ahmadiyah di Belahan Dunia

Masalah kesesatan ajaran Ahmadiyah bukanlah hal yang baru terjadi kemarin sore. Problematika ini telah ada lebih dari 1 abad yang lalu. Di berbagai belahan dunia keputusan yang diambil sama seperti keputusan yang ditetapkan/difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), bahwa ajaran Ahmadiyah adalah sesat (walau jika benar ada 2 kelompok yang berbeda tersebut perlu ada dialog agar bisa membedakan mana yang Qadian dan mana yang Lahore). Di negeri jiran seperti Malaysia dan Brunei Darussalam pun mengambil fatwa serupa. Melarang ajaran Ahmadiyah. Bahkan di Pakistan secara tegas meminta Ahmadiyah untuk mengaku sebagai agama sendiri (karena jika mengaku Islam, banyak hal yang bertentangan dengan akidah/rukun Islam dan Iman, yang tentu secara otomatis menggugurkan ke-Islam-annya).

Bukan hanya per-negara, pelarangan ajaran Ahmadiyah juga ditetapkan oleh Liga Muslim Dunia (Rabithah Alam Islami). Pelarangan ini di antaranya atas dasar para pengikut Ahmadiyah menganggap bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi sesudah Rasulullah Muhammad SAW.

Kebebasan Beragama versi AKK BB

Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan secara giat mengkampanyekan kebebasan beragama sebagai mana yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945. Niatannya sebenarnya bagus dan perlu didukung. Islam pun terbukti sangat toleran terhadap pemeluk agama lain. Pada berbagai sejarah di berbagai belahan dunia ketika Islam berkuasa di sebuah wilayah, pemeluk agama lain diberi kebebasan untuk beribadah dan menjalankan aktivitas lainnya dengan tenang.

Tapi pada kasus ini, yang terjadi adalah bukan soal kebebasan beragama dan berkeyakinan. Masalah yang terjadi adalah penodaan atas agama. Hal inilah yang perlu ditegaskan dan digarisbawahi.

Kenapa penodaan atas agama? Dari beberapa paragraf tulisan saya di atas, sudah jelas tersebut alasan atas pelarangan Ahmadiyah di berbagai belahan dunia (tentu termasuk di Indonesia). Ketika akidah (fondasi) dasar berubah (misal: nabi terakhir, kitab suci, tanah suci, dsb), tentulah ‘bangunan’ di atasnya ikut berubah. Ketika fondasi yang dimaksud adalah fondasi membangun Islam, tentu berubah pula-lah Islamnya.

Pada kerangka berpikir di sinilah kita harus memahami dan membedakan, mana yang dimaksud dengan kebebasan beragama dan mana yang merupakan penodaan atas sebuah agama.

FPI vs AKK BB

Pada berbagai pemberitaan akhir-akhir ini, dan juga opini publik yang terbentuk, FPI bertindak bringas dan membabi-buta menghajar AKK BB yang sedang memperingati Hari Kelahiran Pancasila. Kemarin saya ‘menguping’ pembicaraan 2 orang Bapak di executive lounge Bandara Soekarno-Hatta, kurang lebih isinya "apa sih maunya FPI itu, orang lagi diam-diam koq digebuki?".

Intinya, orang-orang hanya melihat ekses terakhir yang terjadi. Tiba-tiba ada yang digebuki. Tapi ngga banyak orang yang tahu atau mau melihat kondisi yang menjadi akar permasalahannya. Secara singkat ‘sejarahnya’ seperti yang saya tulis di atas. AKK BB dengan alasan mendukung kebebasan beragama bersikukuh menolak keluarnya Surat Keputusan Bersama tentang pelarangan ajaran Ahmadiyah. Konon, pihak FPI sudah mencoba berbicara baik-baik dan menjelaskan apa dan bagaimananya. Tapi keterangan tersebut sangat mungkin tidak dianggap. Hingga akhirnya AKK BB menyelenggarakan acara ‘berkedok’ Peringatan Hari Kelahiran Pancasila. Kenapa saya gunakan tanda kutip, karena jelas wacana utama yang diangkat adalah masalah Ahmadiyah dan kebebasan beragama tadi.

Atas dasar ‘kenekatan’ menyelenggarakan acara itulah, pihak FPI merasa AKK BB menantang (baca: mengajak perang). Sudah diberitahu dan dijelaskan baik-baik, tapi ternyata masih menganggap bahwa apa yang mereka suarakan adalah masalah kebebasan beragama. Hasilnya, kita sudah tahu semua. Digebuki.

FPI Yang Bringas

Pada ormas yang bernama FPI ini, saya sendiri berdiri di dua sisi. Antara mendukung dan tidak mendukung. Pada satu sisi mendukung, karena mereka mencoba menegakkan ajaran Islam. Banyak pihak yang khawatir, terutama non muslim. Wajar-wajar saja, tentu karena takut siapa tahu suatu saat malah jadi korban kebringasannya FPI. Dalam hal ini saya sangat percaya bahwa FPI tidak akan mengganggu non muslim. Misal, dalam berbagai kebringasan tersebut, tidak ada serangan yang dilakukan pada non muslim, apalagi pada tempat-tempat ibadahnya. Mungkin saja ada non muslim yang jadi korban, tapi perlu dicari tahu juga, kenapa bisa terjadi. Mungkin saja dia menjadi pendukung maksiat (mungkin pemilik bar, panti pijat, dsb), atau mungkin malah ikut-ikutan menyuarakan bahwa Ahmadiyah merupakan bagian dari kebebasan beragama. Mendukung tanpa tahu akar permasalahan tentu harus siap juga dengan segala resiko yang mungkin dihadapi.

Nah, pada sisi yang tidak mendukung, tentunya saya tidak setuju dengan "keputusan akhir" untuk menggunakan cara-cara kekerasan. Kita berada di negara hukum, ada hal-hal yang harus diselesaikan secara hukum. Pada ‘gaya’ FPI yang keras tersebut, tentunya justru akan memberikan pencitraan buruk atas Islam.

Penutup

Masalah Ahmadiyah adalah masalah dunia. Problem yang ada sudah terjadi lebih dari 1 abad yang lalu. Jadi, bukan masalah kemarin sore. Apa pun yang terjadi, kita harus terbiasa melihat akar permasalahannya. Lihat latar belakang yang menjadi babak pendahuluan atas terjadinya masalah tersebut.

Berbagai bahan bacaan tambahan bisa ditelusuri dari Google.

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google