Pembatasan Musik Indonesia

Written on 6 September, 2008 – 13:00 | by Rahmat Zikri |

Pemerintah Malaysia saat ini sedang membuat rancangan undang-undang untuk membatasi masuknya musik asal luar negeri (baca: Indonesia). Dalam rancangan tersebut disebut bahwa komposisi yang diperbolehkan adalah 10% lagu asing dan 90% lagu lokal (Malaysia).

Tujuan pembatasan tersebut adalah untuk memproteksi industri musik di Malaysia, yang semakin hari semakin terpuruk oleh serbuan lagu dan penyanyi asal Indonesia. Tidak heran, setiap kali saya menjejakkan kaki di negeri jiran ini, nyaris di setiap sudut kota setiap hari pasti ada lagu Indonesia yang saya dengar. Semua teman-teman saya yang asli Malaysia pun tidak ada yang tidak tergila-gila pada musik Indonesia.

 

Beberapa tahun lalu, pemerintah Malaysia sempat secara lisan berujar, jika Malaysia bisa menjadi tuan rumah yang baik buat musik Indonesia, kenapa musik asal Malaysia tidak mendapat sambutan yang sama di Indonesia? Pertanyaan yang aneh 😀

Pada dekade 80-an, saya tidak suka musik Indonesia. Walau masih bocah SD yang tidak mengerti bahasa Inggris, buat saya jelas lagu asing lebih menarik. Apalagi pada masa itu lagu Indonesia dipenuhi oleh lagu-lagu melankolis yang berisi penderitaan hidup, patah hati, cemburu dan segudang lirik yang tidak memiliki semangat hidup. Baru setelah ada larangan terhadap jenis lagu seperti itu, grafik perkembangan kualitas dan selera lagu Indonesia mengalami perkembangan yang pesat. Hasilnya, sekarang saya lebih memilih lagu-lagu Indonesia ketimbang barat.

Bicara soal pertanyaan di atas, tentunya harus pula bicara soal kualitas dan selera. Masyarakat Malaysia menerima dan tergila-gila pada lagu-lagu Indonesia tentu karena kualitas lagu-lagu Indonesia itu sendiri. Tapi sebaliknya, bagaimana kita bisa memaksa telinga orang-orang Indonesia untuk tergila-gila pada lagu asal Malaysia, jika orang Malaysia nya sendiri lebih pilih mendengar lagu Indonesia?

Mungkin masih banyak yang ingat, di tahun 1987 ada grup band asal Malaysia yang sempat populer di Indonesia, Search, dengan hit nya yang berjudul Isabella. Tapi setelah itu, paling hanya Siti Nurhaliza yang bisa kita terima. Dari masa ke masa, musik Malaysia pun tidak mengalami perkembangan kemampuan ‘inteligensia’ bermusik. Bandingkan saja musik dari 20 tahun yang lalu dengan musiknya dari jaman kini.

Jika memang benar akhirnya rancangan undang-undang tersebut dijalankan, mungkin memang akhirnya berdampak pada berkurangnya pasar penjualan lagu Indonesia, begitu juga peluang konser-konser di negeri jiran. Tapi jangan lupa membuka peluang lewat jalan lain. Ajak mereka berkunjung ke Indonesia. Ada banyak penerbangan dari Malaysia ke Indonesia. Tidak mesti lewat Jakarta. Bahkan kalau mau pun bisa menggunakan ferry menyebrang laut menuju Kepulauan Riau, atau Medan. Mereka bisa belanja kaset, CD atau DVD Indonesia di situ. Peluang lewat konser-konser pun bisa diadakan di tempat-tempat yang bisa dijangkau oleh mereka. Lebih dari itu, kita juga bisa sekaligus membungkus dengan program-program pariwisata, yang tentu bisa mendatangkan devisa lebih baik lagi.

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google