Hal-Hal Yang Tidak Membatalkan Puasa

Written on 14 September, 2008 – 10:59 | by Rahmat Zikri |

Waktu berusia SD-SMP, saya gemar sekali berenang. Bukan hanya di kolam renang beneran, tapi bisa di mana saja, di laut (bahkan bukan laut tempat wisata, melainkan di daerah perkampungan nelayan), di sungai (bahkan di dam kecil), sampai di kolam-kolam penampungan air di pabrik pembuatan es balok! Saya tahu persis apa yang saya dan teman-teman kerap lakukan ketika di dalam air, menggarami laut.. ups, salah… tepatnya mengencingi air kolam. Tampaknya itu adalah kegiatan yang mengasyikkan! Hehehe.

Lokasi pabrik pembuatan es balok yang berjarak sekitar 1,5KM dari rumah itu  kini telah tutup. Pabrik yang berangka tahun jaman kolonial Belanda (kalau tidak salah angka yang tertulis adalah 1928) ini menyimpan kenangan saya bersama teman-teman berenang di bak-bak penampungan awal yang sedalam 1,5-2 meter. Bak-bak berukuran kurang lebih 5×5 meter terdiri dari beberapa buah bak berjejer. Kolam penampungan air ini terletak di halaman belakang pabrik, yang bisa ditelusupi masuk melalui pagar kawat yang rusak, sehingga anak-anak bisa menyelinap dengan mudah. Setelah masuk, dengan santainya kami membuka pakaian, meletakkan di samping bak, dan langsung menceburkan diri ke dalam air yang dindingnya berlumut itu. Tantangan paling menyenangkan dari kegiatan ini adalah bagaimana caranya bermain air tanpa diketahui satpam-nya. Beberapa kali sih ketahuan, ya tinggal lari saja, sambil membawa pakaian yang belum sempat dipakai! :D “Kartu” yang saya pegang bahwa kami mengencingi air kolam di pabrik es, membuat saya ogah jajan yang mengandung es balok!

Nah, kegiatan berenang ini pasti terhenti kalau memasuki bulan ramadhan. Pasalnya, banyak teman ketika itu beranggapan bahwa jika sampai buang angin di dalam air, puasanya bisa batal. Padahal buang air kecil dan buang angin di dalam air adalah 2 hal yang seringkali dilakukan.

Walau sudah lama saya tidak mendengar ada orang yang masih menganggap buang angin di dalam air adalah benar-benar dapat membatalkan puasa, tetapi masih banyak hal-hal lain yang tidak ada tuntunan dan dasar hukumnya tetap saja dianggap oleh beberapa orang sebagai hal yang membatalkan shaum Ramadhan.

Di antara hal-hal tersebut yang saya coba daftarkan di antaranya adalah sahur dalam keadaan junub, sikat gigi, kumur-kumur dan memasukkan air ke hidung, berdarah (luka pada kulit), mencicipi makanan, suntik atau mencium istri/suami. Mungkin masih ada beberapa ‘fatwa’ batal lainnya yang beredar di masyarakat.

Ketika saya kost di Bandung pada masa kuliah dulu, pernah ada teman yang pagi-pagi buta, jam 3, menggigil kedinginan karena mandi wajib. Di Dago Atas yang dingin, dia mandi sepagi itu. Alasannya, baru saja mimpi “basah”. Padahal ketika itu lagi bulan Ramadhan. Dengan kata lain, dia mandi agar sahur dan puasanya sah. Tidak ada referensi yang menyebut bahwa kita harus sahur dalam keadaan bersih. Tidak sahur saja puasanya tetap sah, yang penting kita telah berniat untuk puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Yang tidak sah dilakukan dalam keadaan junub adalah shalat. Jadi, ketika masuk waktu shalat Subuh tapi dia masih dalam keadaan junub, barulah dia wajib mandi.

Sikat gigi. Banyak juga orang yang menganggap bersikat gigi di siang hari ketika puasa bisa membatalkan puasa. Ya iya bisa batal, kalau odolnya dimakan, atau airnya diminum. Selama 2 hal itu tidak dilakukan, tidak ada alasan untuk tidak bersikat gigi. Adanya hadis yang menyebut baunya mulut orang yang berpuasa lebih harum ketimbang wangi kesturi di surga, selain lemah juga tidak mencerminkan ajaran Islam yang mengajarkan kebersihan dan kesehatan (tentu termasuk kesehatan gigi dan rongga mulut). Menterjemahkan hadis tersebut secara harfiah sehingga membiarkan mulut berbau busuk tidak saja buruk buat kesehatan si empunya mulut, tapi juga mengganggu orang di sekitarnya.

Hal lain yang kadang ada juga yang menganggap bisa membatalkan puasa adalah kumur-kumur dan memasukkan air ke hidung. Sekali lagi, ini benar bisa membatalkan puasa jika airnya diminum! Jika tidak, ya puasanya jalan terus. Kita tidak menemukan dalil yang menyebut tata cara berwudhu khusus ketika sedang berpuasa. Artinya, dalam keadaan berpuasa (termasuk di bulan Ramadhan), kita tetap saja berwudhu dengan cara biasa. Termasuk berkumur dan mencuci rongga hidung bagian depan. Yang penting dilakukan seperti biasa, tidak menjadi berlebih-lebihan yang bisa berakibat adanya air yang tertelan.

Ada pula orang yang mengatakan bahwa berdarah karena luka itu membatalkan puasa. Ini juga sama, tidak ada dalil yang menyebut berdarah bisa membatalkan puasa. Iya bisa batal, kalau yang dimaksud adalah darah menstruasi. Hehehe.

Dulu kerap saya ikut menonton di dapur, menyaksikan ibu dan kakak memasak atau membuat kue sebelum lebaran. Kerap ibu mencicipi masakan dengan menempelkan jari di ujung lidahnya. Pada salah satu hadis riwayat Bukhari hal ini dibenarkan dan disebut tidak membatalkan puasa, yang penting tidak sampai tenggorokan. Lebih afdol lagi tentunya setelah dicicipi di ujung lidah segera dilepehkan kembali. Kalau tidak dicicipi, bagaimana jadinya masakan-masakan tersebut. Jadi mencicipi makanan ini selain tidak membatalkan puasa, mestinya juga mengandung pahala, karena menyediakan makanan yang enak untuk berbukanya orang-orang yang berpuasa :D

Di waktu lain, ada juga orang-orang yang menolak disuntik ketika sakit. Khawatir suntikan itu membatalkan puasa. Suntik juga tidak membatalkan puasa, selama yang disuntikkan tidak mengandung bahan makanan (misalnya di-infus).

Mencium istri di saat menjalankan shaum Ramadhan pernah dilakukan Rasullulah Muhammad SAW pada Aisyah. Hal ini disebut dalam sebuah hadis riwayat Bukhari. Hal terpenting yang perlu dijaga adalah menahan diri dari nafsu syahwat. Akan tetapi hal ini tentu berat buat orang biasa.

Selain hal-hal tersebut di atas, hal yang menarik perhatian saya lainnya adalah anggapan bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Seringkali menjadi pemandangan yang umum kita lihat di masjid-masjid atau musholla terdapat banyak orang yang bergelimpangan. Tidur. Istilahnya “puasa ular”. Dalil yang mendukung hal ini juga saya anggap lemah. Bagaimana mungkin Islam mengajarkan umatnya bermalas-malasan. Padahal puasa seharusnya tidak dijadikan alasan untuk mengurangi aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukan.

Demikian hal-hal yang bisa saya ingat dan sharing ke teman-teman. Semoga tidak ada lagi teman-teman yang mandi kembang, eh, mandi junub di pagi buta, atau bau mulut di siang hari, serta hal-hal yang sebenarnya dibenarkan lainnya.

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google