Sales oh Sales (Kartu Kredit)

Written on 3 March, 2009 – 12:06 | by Rahmat Zikri |

Belakangan ini ekspansi bank-bank yang menjajakan kartu kredit sepertinya semakin merajalela saja. Tidak hanya berdiam diri menunggu calon customer datang menghampiri bank-nya, tapi mereka juga aktif hadir di berbagai sudut pusat perbelanjaan di berbagai level. Bahkan, bukan hanya sampai di sini, sepertinya di berbagai sudut pun kita bisa bertemu… sampai saya hendak melakukan perjalanan udara pun di bandara bersua sales kartu kredit yang gigih tiada henti.

Dulu, saya pertama kali apply kartu kredit di tahun 1996/7, melalui program kartu kredit untuk mahasiswa tingkat akhir (minimal semester 6) dari Citibank. 2x apply gagal, tetap saja saya coba yang ketiga. Tapi ternyata ngga ada kabarnya. Ternyata oh ternyata, formulir saya terselip di meja sales-nya. Tiba-tiba di tahun 1998 saya menerima telpon, ditanya, apakah masih berminat atau tidak… Sekaligus diberitahu dengan jujur, bahwa formulirnya terselip! Dulu, saya sendiri yang “merengek-rengek” mohon di-approve.

Lain dulu, lain sekarang. Sambil jalan-jalan di pusat perbelanjaan pun kita bisa bertemu dengan sales yang menghampiri dan menawarkan kartu kredit. It’s okay. Yang ini, cukup kita bilang tidak dan terimakasih, urusan selesai. Walau sebenarnya males juga berbasa-basi.. Hampir semua orang ke mal buat jalan-jalan, cuci mata dan belanja! Bukan buat “diprospek”. Walau, sekali lagi, masih dimaafkan.

 

Urusan sales kartu kredit yang paling menyebalkan buat saya (dan bisa jadi Anda juga sama) adalah dihubungi melalui telepon! “Selamat siang, Bapak Rahmat Zikri. Kami dari Bank xxxxxxx, mau menawarkan program kartu kredit kami untuk Bapak… bla.. blaa..”. Such annoying thing. Sangat mengganggu. Telepon bisa berbunyi kapan saja di jam kerja. Kadang saya malas mengangkat nomor yang ngga jelas. Tapi kadang khawatir juga jangan-jangan yang menelepon ini justru mau kasih rejeki. Salah-salah angkat, ternyata yang menelepon adalah sales yang menawarkan barang, ya nasib. Saya coba membuat daftar kerugian ketika ditelepon oleh sales:

  1. Waktu terbuang percuma. Biasanya sales yang menelepon bilang bahwa mereka hanya meminta waktu 5 menit untuk menjelaskan. Tapi pada kenyataannya bisa berkisar 10 menit atau bahkan lebih.
  2. Hilang produktivitas. Tentu saja berkaitan dengan waktu yang terbuang percuma di atas. Coba kalau dipakai mengerjakan hal-hal yang berguna lainnya.
  3. Hilang mood. Bisa jadi waktu ditelepon itu sebenarnya saya sedang mengerjakan sesuatu. Misalnya membuat tulisan, laporan, troubleshooting masalah di server. Ketika saya tengah berkonsentrasi, tiba-tiba harus mendengarkan ‘ceramah’ ngga penting. Selesai dengar “kuliah 7 menit (kultum)” tentang benefit-benefit yang ditawarkan, konsentrasi sudah buyar.
  4. dsb… dsb.

Kalau pun akhirnya saya setuju untuk menerima tawaran, bukan berarti resiko tidak berlanjut. Justru resiko semakin besaarr. Data pribadi akan semakin besar peluangnya untuk tersebar. Sudah bukan rahasia, seorang sales yang pindah dari satu bank ke bank lain akan membawa serta data yang dia miliki. Bukan rahasia juga, bahwa di antara para sales bisa terjadi pertukaran data. Udah macam cluster server saja mereka.. bisa synchronize.

Siang ini, kembali saya menerima telepon. Siang ini juga langsung saya tulis di blog. Bagaimana ngga mau mabok, entah untuk yang ke-berapa puluh kali-nya sales Bank Danamon menelepon dan menawarkan kartu kredit. Lucu, yang terakhir ini dengan jujur bilang bahwa mereka mendapatkan data dari Bank Mandiri (bodoh, bagaimana mungkin bank-nya secara resmi mau sharing data nasabah dengan bank lain, kan bisa kehilangan nasabah bagus!). Lalu bertanya, berapa pagu kredit yang saya miliki di Bank Mandiri. Saya jawab jujur, kebetulan kartu ini salah satu yang berpagu rendah yang saya miliki. Mbak-nya bilang, mereka bisa mem-buat jadi double di Bank Danamon. Tetap saya tolak dengan halus. Bukan masalah dia bisa men-double. Kalau cuma limit batas kartu kredit, saat ini saya punya 4 kartu kredit platinum yang aktif. Tawaran itu hanyalah “a piece of cake”.

Pada peringkat ke-dua sebagai sales annoying adalah Hongkong and Shanghai Banking Corporation, alias HSBC. Jumlah sales yang menelepon memang tidak sebanyak rekor Bank Danamon, tapi kalau cuma angka 5 orang sales, saya ingat persis, pernah dihubungi. Nah, yang ini, referensinya adalah salah satu kartu platinum yang saya miliki. Sehingga penawarannya adalah limit yang lebih tinggi lagi. Dengan beberapa fasilitas yang ditawarkan, apalagi tahun pertama gratis, saya tertarik untuk mencoba. Mereka mengirimkan faks application form untuk Visa/Master credit card. Esoknya, mereka menjemput aplikasi tersebut. Beberapa hari kemudian saya ditelepon untuk verifikasi. Lalu, ada juga orang yang datang ke kantor. Tapi setelah itu, kutu kupret, ngga ada kabarnya lagi. Kartu pun tak kunjung muncul. Ya sudah, “lu pikir gua butuh?”. Mestinya mereka bersyukur saya mau menerima tawaran dan mengisi formulir mereka.

Dari beberapa kartu kredit yang saya miliki, saya menggunakan beberapa cara untuk memberikan “jebakan batman”. Saya bisa membedakan mana data yang dari Bank A, mana yang Bank B, atau Bank C. Bank HSBC mendapatkan data dari ANZ. Pernah juga ada data saya yang dari Citibank, kalau tidak salah ‘muncul’ di data sales-nya Bank Mega. Singkat kata, di bank mana pun Anda bikin kartu kredit, tidak ada jaminan data Anda dibawa ke luar bank tersebut. Bagaimana ini? Harusnya data customer itu adalah rahasia yang harus dijaga. Harusnya, Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dapat melindungi privacy setiap orang yang menjadi nasabah.

Oh iya, tawaran-tawaran via telepon ini bukan hanya datang dari sales kartu kredit. Tapi juga asuransi (di peringkat ke-dua), lalu membership hotel (jaringan).

Untuk tawaran dari sales kartu kredit, saya pernah diajak bertemu langsung sambil menjelaskan program-program mereka sambil ngopi-ngopi di cafe. Untuk tawaran membership hotel (beberapa jaringan hotel bintang 3-4-5 pernah menghubungi saya) lebih ‘ekstrem’ lagi. Salah seorang sales sebuah jaringan hotel bintang 4 di Bandung malah menawarkan menemani saya jalan-jalan kalau lagi di Bandung dan akan mengenalkan dengan manajernya, yang katanya “cantik lho pak!” :D

Saya bukan anti dengan pekerjaan sales. Saya mengerti target apa yang harus mereka capai. Tapi, bisa-kah para sales (terutama kartu kredit dan asuransi) yang menawarkan produk ini berhenti “mengganggu” calon customer-nya melalui telepon? Bisa-kah mereka duduk manis di kiosk mereka di mal-mal (atau pun tempat lain) tanpa “menyatroni” orang yang lewat satu per-satu? Toh, sales-sales properti atau mobil di mal-mal bisa melakukan itu.

Menelepon seseorang tanpa diminta atau diharapkan, apalagi dengan tujuan menawarkan sebuah produk atau jasa, tidak ubahnya seperti SPAM pada email. Kalau spam itu masih bisa dicegah, dihapus, tapi kalau dikejar-kejar telepon ngga penting untuk menawarkan kartu kredit, lebih gawat dari SPAM EMAIL! Annoying dan menyita waktu.

Update: bergabunglah dengan grup Hentikan Kegiatan Telemarketing Kartu Kredit di Facebook!

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google