Anti Megawati di Facebook

Written on 5 April, 2009 – 12:37 | by Rahmat Zikri |

Saya dari dulu memang ngga pernah mendukung Megawati, apalagi PDI Perjuangan-nya. Sikap saya selama ini terhadap Megawati adalah diam, dengan kecenderungan tidak pro. Tapi apa yang terjadi dalam hari-hari terakhir masa kampanye Pemilu Legislatif justru membuat saya berada di posisi yang jelas-jelas menolak Megawati.

Dengan berlindung pada pepatah “Diam itu emas”, Megawati pada saat menjadi Presiden nyaris tidak pernah membuka mulut. Banyak yang bilang, itu untuk menyembunyikan keterbatasan pengetahuan dan kemampuannya. Buat saya, walau diam-nya itu “menyebalkan”, terserah saja. Mungkin saja memang itu strateginya. Gayanya.

Setelah “tergusur” dari kursi kepresidenan, apalagi dari orang-orang yang (mungkin) menurutnya seharusnya menjadi pembantunya, Megawati mengambil sikap diam seribu bahasa, bahkan tidak mau bertemu dengan mantan bawahannya yang menjadi pasangan Presiden dan Wakil Presiden terpilih. Tidak sampai di situ saja, ternyata aroma dendam tetap terus dikobarkan sampai menjelang Pemilu 2009 ini. Bagaimana mungkin seorang negarawan bersikap seperti itu?

“Kelucuan” pertama di minggu terakhir masa kampanye yang membuat saya sedih melihat seorang Megawati adalah ketika beliau dengan nada penuh emosi memerintahkan agar rakyat jangan mau dibodohi, disuruh mencontreng… “Selama puluhan tahun kita Pemilu dengan cara mencoblos, kenapa sekarang kita mau disuruh mencontreng???! Untuk itu saya minta saudara-saudara agar jangan mencontreng, tapi coblos saja!!!” Kira-kira begitulah yang diucapkannya pada sebuah kesempatan berorasi kampanye. Kita pada saat ini sedang belajar menjadi lebih terpelajar. Menghilangkan budaya “primitif” main coblos, tusuk, tikam, menjadi menggunakan pena, menulis, memberi tanda, yang lebih melambangkan kecerdasan. Saya yakin bahwa jika ada masyarakat yang karena ketidaktahuannya lalu mencoblos, suara tersebut tetap sah! Kalau begitu, apa salahnya ikut mendukung memasyarakatkan peraturan baru, mencontreng! Kenapa harus penuh emosi melarang rakyat menuruti peraturan tersebut? Mengapa mengajarkan rakyat tidak patuh pada aturan? Artikel terkait contohnya bisa dibaca di sini.

Puncak kelucuan benar-benar terjadi beberapa hari lalu… Setelah sebelumnya selalu berteriak tidak setuju dengan penyaluran BLT (Bantuan Langsung Tunai), tiba-tiba saja dalam beberapa hari terakhir ini muncul sebuah iklan tv yang bertolak-belakang… berbunyi kira-kira: “PDI-P turun ke lapangan… berbaur dengan rakyat… memastikan BLT diterima oleh rakyat…” dsb, dst. Lantas sebelum ditutup, ada sebuah pernyataan menggelikan… “Terimakasih PDI-P!”. Sebuah pernyataan yang seakan-akan menempatkan diri PDI-P sebagai pahlawan BLT yang dielu-elukan oleh rakyat! Munafikun.

Saya termasuk orang yang tidak setuju program bagi-bagi duit dalam bentuk BLT. Saya lebih memilih dan mendukung jika dana yang besar tersebut dipakai untuk membangun unit-unit usaha kerakyatan, sehingga menjadi modal produktif, bukan konsumtif. Dengan demikian, secara tidak langsung juga dapat membuka kesempatan kerja mandiri, membantu rakyat miskin dapat berusaha dan berharga diri.

Anda setuju dengan BLT? atau Anda tidak setuju dengan BLT? Apa pun pendapat Anda, terserah saja… Saya menghormati semua pendapat. Yang berpendapat BLT penting pun tidak salah. Yang penting adalah konsistensi dalam memegang ucapan. Bukan plintat-plintut, kemarin bilang apa, hari ini beda lagi. Bagaimana kita bisa percaya dengan pemimpin yang seperti ini?

Hari ini, saya mendapat invitation menjadi supporter “Say “NO!” to Megawati!” di Facebook. Luar biasa, dalam tempo singkat (konon baru dibuat kemarin), anggota yang bergabung telah melampaui angka 35.000! Dengan kata lain, kecepatan pertambahan anggotanya sekitar 1.000 anggota baru setiap jam. Mungkin bisa diajukan ke MURI sebagai group yang tercepat dalam penambahan jumlah anggota. Grup bisa dilihat di link ini. Bandingkan dengan supporter Megawati Soekarnoputri yang hanya berjumlah 1.400 (kurang dari 1/30-nya).

Iklan parpol lain yang membuat saya muak adalah iklan Partai Demokrat yang BBM turun 3x.. dengan visualisasi penyebutan kata “TURUN” diulang 3x. Come on men, harga BBM memang sudah harus turun… Lha harga minyak dunia memang turun. Jadi bukan karena PD menurunkan harga minyak. Lebih parah lagi, seharusnya kan bisa langsung turun sekaligus, sehingga tidak perlu dipolitisasi angka 3x gitu. Kenapa ngga sekalian saja turun 10x. Bisa-bisa saja kalau diirit turun sedikit demi sedikit. Lebih luar biasa lagi bukan? Untung iklan menjijikkan itu tidak muncul lagi.

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google