Sekali lagi, Jalan-jalan ke Luar Negeri, Bebas Fiskal dengan NPWP

Written on 11 April, 2010 – 23:30 | by Rahmat Zikri |

Sebenarnya saya sudah pernah menulis tentang tata cara pengurusan bebas fiskal ke luar negeri untuk mereka yang telah memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) pada tulisan di sini. Tetapi masih saja ada banyak pertanyaan, terutama seputar siapa saja yang dapat turut serta “menumpang” NPWP seseorang.

Pertanyaan-pertanyaan seperti: “saya tidak punya NPWP, orangtua juga tidak punya, tetapi kakak saya punya… apakah saya juga dapat memanfaatkan fasilitas bebas fiskalnya?” adalah termasuk jenis pertanyaan yang paling sering muncul. Oleh karena itu sepertinya saya harus membuat tulisan secara terpisah di sini.

Secara singkat saya tuliskan prosedur bebas fiskal dengan sangat sederhana:

Sebelum Anda menuju bandara/pelabuhan tempat Anda hendak ke luar negeri (misal di bandara Soekarno-Hatta), pastikan Anda membawa kartu NPWP dan fotokopinya!

Setelah Anda check-in dan mendapatkan boarding pass dari maskapai penerbangan yang digunakan (atau tiket ferry, jika perjalanan dilakukan lewat laut), segera datangi loket pengurusan bebas fiskal. Serahkan boarding pass dan fotokopi NPWP Anda.

Fasilitas bebas fiskal ini berlaku untuk si pemilik NPWP dan/atau:

  • Istri
  • Anak
  • Orangtua
  • Mertua

Untuk mereka yang tersebut di atas, perlu melampirkan fotokopi kartu keluarga juga (selain fotokopi kartu NPWP dari si penanggung). Pemilik NPWP nya sendiri tidak mesti turut serta dalam perjalanan. Artinya, mertua Anda boleh saja pergi sendiri ke luar negeri dan tidak membayar fiskal (yang besarnya sekarang Rp 2.500.000), selama beliau membawa serta fotokopi NPWP dan kartu keluarga Anda. Tapi perlu dicatat juga bahwa nama mertua mesti tercatat pula di kartu keluarga Anda.

Di luar dari yang tersebut di atas (selain istri, anak, orangtua dan mertua), TIDAK BISA menikmati fasilitas bebas fiskal! Ya, sesederhana itu saja.

Dasar “hukum” saya menyebut daftar tersebut ada 2 (dua). Yang pertama, di depan loket pengurusan bebas fiskal memang tertulis seperti itu saja (daftarnya). Yang kedua adalah logika yang sama dengan pengisian SPT (Surat Pemberitahuan) Pajak yang mesti diisi oleh setiap pemilik NPWP setiap tahunnya. Di dalam perhitungan nilai pajak yang mesti dibayar, dikenal istilah PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak). Nilai PTKP ini akan bertambah jika:

  • Obyek Pajak (pemegang NPWP) menikah dengan seorang istri (hanya seorang).
  • Obyek Pajak memiliki tanggungan berupa anak kandung (maksimal 3 orang anak). Setiap anak akan berkontribusi terhadap besarnya jumlah PTKP.
  • Obyek Pajak memiliki tanggungan berupa orangtua yang ikut hidup serumah bersamanya.
  • Obyek Pajak memiliki tanggungan berupa mertua yang ikut hidup serumah bersamanya.

Itu saja. Di luar yang disebut di atas, tidak memiliki kontribusi terhadap PTKP seseorang. Artinya, jika seorang adik menumpang di rumah kakaknya, si adik tidak berkontribusi terhadap PTKP. Dengan logika ini, si adik tidak bisa memanfaatkan fasilitas bebas pajak dari kakaknya. Begitu juga pada sebuah rumah, jika ternyata Bapaknya sudah tidak bekerja, yang mencari nafkah adalah kakak. Tetap saja adik tidak bisa menikmati fasilitas bebas fiskal.

Kalau begitu bagaimana solusinya? Sebenarnya gampang saja. Memiliki NPWP tidak berarti HARUS bayar pajak. Bisa saja kalau memang tidak ada penghasilan, atau penghasilan sangat kecil sehingga nilainya kurang dari atau sama dengan PTKP (untuk seorang lajang, besarnya adalah Rp 15.800.000 per tahun) maka dia tidak perlu bayar sepeser pun. Yang penting pada waktunya melaporkan SPT (setiap tahun sebelum tanggal 31 Maret). Beres kan??

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google