Awas Kena Tipu Kompor Aowa!!!

Written on 28 May, 2010 – 16:15 | by Rahmat Zikri |

aowa Awalnya saya sempat khawatir dianggap mencemarkan nama [baik] sebuah produk. Karena sebelumnya saya sempat menduga bahwa kecurigaan tersebut hanyalah dugaan saya seorang. Tadinya saya tidak mau menulis nama produk/merek. Tapi setelah iseng-iseng melakukan penelusuran di Internet dengan kata kunci “Penipuan Kompor Aowa”, terbukti telah banyak korban yang terjebak…. Dan ini telah berlangsung setidaknya sejak tahun 2008 di berbagai mal di Indonesia! (ralat…. barusan saya menemukan arsip, ternyata tahun 2005 pun mereka sudah beraksi!)

Alhamdulillah, saya dan istri tidak terkena bujuk rayu…. Tapi rasanya tidak sampai hati kalau ada orang lain yang masih saja “termakan” tipuan standar yang dilakukan oleh sales-sales kompor Aowa itu. Bahkan tadinya –setelah tiba di rumah dan iseng cari informasi di Internet – saya sempat sangat ingin kembali ke mal tersebut dan memberi pelajaran sales-sales penipu tersebut, tapi dilarang oleh istri. Hehehehe… Ya sudahlah, saya ceritakan saja di sini…. Agar tidak ada yang terus tertipu. Sebaiknya tulisan ini juga turut disebarluaskan ke mana-mana. Jangan dianggap remeh, karena ternyata mereka terus beraksi…. suatu saat bisa saja orang-orang di dekat kita yang menjadi korban, dan uang yang dikeluarkan tidak sedikit (rata-rata antara Rp 5 s.d 8 jutaan).

Catatan: link ke kasus-kasus serupa yang terjadi sejak tahun 2008 saya cantumkan di bagian bawah.

Begini ceritanya….. Sore itu, kami baru saja berbelanja di salah satu pasar swalayan ternama yang terletak di ITC Cempaka Mas, Jakarta. Sambil mendorong troli belanjaan, kami melewati stand sebuah produk kompor induksi (menggunakan listrik, seperti halnya kompor listrik biasa, tapi tidak menggunakan filamen untuk menghantar panas… jadi kompor tidak akan terasa panas jika disentuh. untuk proses memasak, harus menggunakan panci atau kuali khusus). Oleh sales-nya, kami dijelaskan dan diperagakan bagaimana cara kerja kompor tersebut. Ketika hendak beranjak pergi, mereka memberikan gift berupa pengupas kulit buah. “Diambil saja, gratis kok”, begitu ujar sang pramuniaga. Mereka hanya minta paraf sebagai tanda bukti bahwa mereka telah mengeluarkan hadiah tersebut untuk pengunjung. Sambil istri saya menuju tempat di mana lembar tersebut harus diparaf, saya ditawari menarik selembar doorprize oleh sales yang lain. “Tarik saja satu pak.. Lumayan, siapa tahu dapat diskon untuk membeli produk kami. Bapak bisa pakai di stand kami di mana pun, ngga mesti hari ini.”, ucap sang penjual ‘obat’ ini. Saya pikir, apa salahnya buat menyenangkan hati dia. Toh ngga ada ruginya cuma menarik selembar kertas. Masalah nanti akan dipakai atau tidak, urusan belakangan.

Ternyata petualangan segera dimulai setelah saya menarik kertas “doorprize” tersebut! Waktu itu saya disodori 3 kertas. Entah memang sudah mempelajari sifat orang atau karena memang peluang “menang” adalah 2 dari 3, saya mengambil kertas yang di tengah. Hup laaaa….! Waktu saya sobek kertas tersebut dan melihat isinya, tertera gambar kompor induksi merek Aowa yang mereka gembar-gemborkan berharga Rp 9.980.000! Bersamaan dengan itu, istri saya dan sales yang satunya lagi tiba di depan saya. Terjadilah percakapan seperti ini:

Sales 1: “Waaahhh, ini dapat kompor gratis pak!”

Sales 2: “yang benerr?? coba lihat… wah iya bener pak.. hoki banget pak. bapak dapat kompor yang ini” (sambil menunjuk-nunjuk kompor induksi yang dari tadi saya lihat demonya)

Saya: (sambil cengar-cengir) “yang bener nih….. ini saya disuruh beli apa dulu?”

Waktu itu saya melihat sepotong kalimat bahwa saya harus membeli sebuah produk berkategori A.. Di saat yang bersamaan alhamdulillah akal sehat saya masih jalan, ngga ada barang gratisan di dunia ini. Orang jualan pasti mau untung, bukan mau rugi. Kalau iya ada bagi-bagi hadiah bernilai semahal itu, alangkah gampangnya hanya memilih 1 dari 3 kertas undian. Tetapi ketika itu mereka mengalihkan pembicaraan dengan berpura-pura tidak mendengar pertanyaan saya. Pembicaraan berlanjut. Sales (yang nomor 2) mengambil sebuah kompor yang masih di dalam kardus dan menyodorkan ke depan saya.

Sales 2: “Ini kompor yang buat bapak. Bapak tadi ambil sendiri undiannya atau dibantu oleh orang kami pak?"

Saya: “Ngga. Saya ambil sendiri”

Sales 2: “Benar ya pak…. Bukan ditunjukin sama teman saya ini?”

Saya: “Iya, saya ambil sendiri”

Sales 1: “Bapak hokinya gede ya? Kalau ikut undian sering menang ya pak?”

Saya: *senyum-senyum saja…. namanya ‘itu’ saya bukan hoki, mas!*

Sales 1: “Bapak di sini benar pengunjung saja ya? Bukan punya toko di sini kan?”

Sales 2: “Iya pak, ngga punya toko di sini kan?”

Saya: “Ngga. Saya pengunjung yang cuma habis belanja aja tadi di situ (sambil menunjuk pasar swalayan di depan kami)” *sambil saya berpikir, apa urusannya kalau gue punya toko di sini…. emangnya hak gue jadi gugur buat dapetin hadiah? atau jangan-jangan elo takut besok-besok gue pantengin dari jauh, liat gaya lu nipu orang lain dengan cara yang sama*

Istri: “Hadiah kompor seperti ini ada berapa unit?”

Sales 1: “Selama pameran ini kami memasukkan hadiah kompor sebanyak 20 unit, bu. Jadi, ibu dan bapak termasuk salah satu dari 20 orang yang beruntung”

Istri: “Pamerannya di mana saja?”

Sales 1: “Ada di beberapa mal, bu”

Istri: “Lalu, yang di sini sudah ada berapa yang dapat?”

Pertanyaan ini tidak dijawab. Mereka sibuk mengalihkan perhatian dengan kegiatan-kegiatan yang lain. Sampai di sini saya sudah membaca permainan kotor para sales keparat ini. Tapi terus terang saya juga penasaran dengan kompor induksi tersebut. Jadi, saya lanjutkan dulu permainannya. Saya pengen tahu, seberapa besar harga produk yang harus saya bayar tersebut. Kalau menurut kalkulasi saya harga produk yang harus dibeli ditambah harga produk yang katanya “hadiah” itu dirata-ratakan dengan uang yang harus saya keluarkan masih masuk akal, apa salahnya.

Sales 2: “Sebentar pak, saya telpon kantor pusat dulu. Saya mau lapor dan konfirmasi kalau di sini ada pengunjung yang dapat hadiah kompor”

Setelah itu si sales (nomor 2) terlihat serius melakukan pembicaraan di telepon. Lalu dia memanggil-manggil temannya (sales nomor 1).

Sales 1: “Pak, silahkan ke sebelah sana sebentar. Berbicara dengan kantor pusat kami, untuk konfirmasi kalau bapak benar-benar dapat kompor sekalian pendataan”

Saya meminta istri untuk melayani pembicaraan via telepon tersebut. Sedang saya mendorong troli belanjaan untuk masuk ke area dalam stand dagangan mereka…. Biar bisa sambil duduk maksudnya. Pegal juga berdiri sambil nontonin tukang tipu beraksi. Sambil menunggu istri bicara melalui telepon, sales (nomor 1) mengajak saya berbicara… Belanja apa, rumah di mana, kok jam segini di mal, ngga ngantor ya? Usahanya di bidang apa, dan sebagainya.

Di sisi lain, rupanya pembicaraan dengan istri saya tidak sekedar konfirmasi sebagai pemenang saja. Terjadi pembicaraan, yang kira-kira seperti ini:

Sales 2: “Ibu punya kartu kredit yang berlogo Visa?”

Istri: “Ada”

Sales 2: “Bisa lihat sebentar?”

Istri: “Nih” *sambil menunjukkan sekilas*

Untung pintar juga. coba kalau sampai kartu itu digesek atau dicatat nomornya oleh mereka, habislah duit. Pada hasil penelusuran saya semalam di Internet, bahkan tidak jarang si (calon) korban dikepung oleh 3-4 sales sambil memuji-muji “keberuntungan” sang korban. Tidak menutup kemungkinan mereka berbagi tugas untuk menghapal 16 digit nomor kartu kredit (masing-masing menghapal 4 digit) plus 3 digit di belakang kartu dan juga masa berlaku kartu. Kalau soal nama, mereka sudah dapatkan di kertas yang diparaf untuk menerima gift di awal tadi. Lengkap-lah sudah apa yang mereka butuhkan untuk menghabisi duit korban, sesuka hati mereka.

Mungkin karena kartu yang dikeluarkan “hanyalah” kartu BCA Visa gold, atau karena mereka mau menguji apakah ada kartu lain yang lebih “paten” pagu kreditnya (platinum maksudnya), si sales kembali bertanya:

Sales 2: “Ada kartu Visa yang lain?”

Istri: “Bang, kamu bawa kartu Visa apa?” *sambil memanggil saya*

Saya: “Ada banyak nih” *sambil saya coba pilah-pilah mana yang paling “kere”, saya keluarkan kartu Citibank Visa Clear Card*

Sales 2: “Kami sedang ada program promosi dengan Bank. Untuk pemenang yang menggunakan kartu Visa, Ibu dan Bapak berhak mendapatkan 1 buah rice cooker multiguna.. tidak hanya untuk memasak nasi”.

Makin jelas saja nih permainan tipu-tipunya. Bagaimana ceritanya hanya dengan menunjukkan kartu kredit bisa dapat rice cooker yang kalau tidak salah baca harganya sekitar Rp 5 juta!

Sales 2: “Bapak sama ibu beruntung banget sih? Pak, bawa mobil ngga? Nanti barang-barang ini saya bawain sampai mobilnya, tapi saya dibeliin es krim ya pak!”

Saya: “Bawa… beres itu, kalo emang gratis, ngga masalah”

Selanjutnya, saya agak lupa redaksionalnya, tapi salah satu sales itu entah disengaja atau karena memang bodoh, kembali menyebut bahwa mereka punya kerjasama dengan bank untuk memberikan hadiah bagi mereka yang memiliki kartu kredit berlogo Visa ATAU MasterCard !!! Bodoh. Itu sama saja bilang semua pemegang kartu kredit bakal dikasih hadiah (memang ada kartu kredit selain Visa atau Master, tapi logikanya, pasar terbesar ya berlogo dua ikon ini saja toh?). Makin terlihat bodoh jika yang mendengar ini tahu 2 raksasa tersebut (nyaris) tidak mungkin berpadu untuk mempromosikan hal yang sama. Pastilah ini ada yang tidak beres.

Sales 2: “Nanti kami minta ibu berdua dengan bapak difoto yah, dengan produk yang jadi hadiah ini. Tapi sebelumnya kami mohon ijin dulu, nanti fotonya kami pajang di iklan di majalah… Jadi bintang iklan lah. Tapi ngga kami bayar.” *sambil menunjukkan contoh iklan di majalah yang ngga jelas. di situ terpampang foto ibu dan anak-anaknya, mengacungkan jempol… berfoto bersama dengan kompor induksi Aowa*

Sales 1: “Ibu tahu ngga ini siapa?” *sambil menunjukkan foto bergambar Rudy Choirudin*

Saya dan Istri: “Rudy Choirudin!”

Sales 1: “Selama ini dia yang jadi bintang iklan kami. Di acara memasaknya Rudy Choirudin di TV juga pakai kompor ini, tapi ternyata orang-orang lebih melihat Rudy dan masakannya ketimbang memperhatikan kompor.”

Sales 2: “Ibu mau tahu ngga kenapa kami bisa bagi-bagi kompor gratis? Jadi begini bu, ini sebenarnya adalah budget marketing kami. Daripada kami bayar tokoh seperti Rudy mahal-mahal, lebih baik dananya kami alihkan untuk membagi-bagikan kompor langsung ke masyarakat.”

Sales 1: “Tapi kami minta bantuan partisipasi dari Bapak dan Ibu ya…. Buat ikut mempromosikan produk kami ke teman-teman, tetangga dan saudara-saudara. Tapi nanti jangan bilang kompor dan rice cooker ini gratis. Nanti bisa pada rame-rame ke sini.”

Sales 2: “Jadi begitu bu cara promosi kami yang baru.”

Sales 1: “Nanti bapak dan ibu ganti baju saja dulu, sekalian mempersiapkan moto yang akan disertakan di iklan bergambar bapak dan ibu nanti.” *sambil menunjukkan 2 buah foto iklan dengan komentar korban yang dicantumkan sebagai quotes di situ… misal seperti: “Dengan kompor Aowa, masak jadi hemat, bersih, puihh.. puiiihh” *tai kucing tuh sales*

Sales 2: “Ih ngga usah, pakai baju ini aja…. Kan hokinya di baju ini… Ngga usah salin dulu.”

Akhirul kalam, tibalah kita di penghujung acara….

Sales 1: “Untuk bisa membawa pulang hadiah-hadiah ini, kami minta partisipasi ibu buat membeli satu saja produk kami, seperti yang disyaratkan di kupon undian tadi” *sambil kembali membuka kupon “keberuntungan yang tadi”.”

Sales 1: “Ini daftar produk-produk yang bisa dipilih untuk dibeli.” *sambil membuka katalog produk berkategori A, B dan C.*

Sesuai dengan yang tertera di “kupon keberuntungan”, saya harus membeli satu produk dengan kategori A. Waktu saya intip di katalog tersebut, innalillahi, harga-harga barang di kategori tersebut berharga minimal Rp 7 juta. Mungkin karena membaca gelagat saya dan istri pasti ngga mau, mereka langsung menunjuk barang di kategori B, dengan harga Rp 5 jutaan.

Sales 1: “Ambilin pemanggang itu dong” *menyuruh sales 2 mengambil sebuah produk*

Sales 2: “Ibu pernah ke Hanamasa kan? Ini mirip dengan yang di Hanamasa, yang buat shabu-shabu. Bedanya ini bukan cuma bisa buat ngerebus, tapi bisa buat ngegoreng juga, buat manggang juga bisa. Hebatnya lagi, mau sekaligus ngerebus, ngegoreng dan manggang juga bisa. Tinggal ditumpuk aja nih bagian-bagiannya.”

Saya: “Ngga deh kalau mesti beli mahal begini. Ngga penting-penting amat barangnya.”

Sales 2: “Bapak jangan khawatir, walau pun 2 produk lainnya adalah hadiah, kami tetap memberikan kartu garansi.” *sambil menyodorkan kartu garansi kompor induksi*

Segala daya upaya mereka lakukan untuk meyakinkan saya bahwa saya tidak rugi membayar satu barang ini. Mulai dari menyebut hanya dengan beli satu produk ini Bapak bisa bawa pulang 2 hadiah yang sudah kami berikan, sampai menunjukkan cara meringankan tagihan dengan fasilitas cicilan dari kartu kredit untuk tenor 6 bulan sampai 12 bulan.

Sales 1: “Bapak cuma bayar sekitar Rp 500 ribuan setiap bulannya, ngga berat kan pak?”

Sales 2: “Mungkin sekarang emang belum butuh pak. Tapi dibeli aja dulu, buat nanti-nanti pasti terpakai. Saya jamin.” *ya iyalah kalo gue beli pasti terpaksa gue pakai… udah gila kali kalo gue beli barang 5 juta tapi disimpan di gudang aja*

Sales 1: “Ini tadi juga ada yang dapat, dia beli barang yang kategori A, beli pemurni air (water purifier), seharga Rp 7.xxx.xxx” *sambil menunjukkan slip penjualan dan struk transaksi kartu kredit dan tercatat bahwa si korban tsb adalah nasabah Citibank*

Bah, kasihan sekali orang itu….. Akal-akalan aja sales ini pakai acara mencatat bahwa si korban beruntung dapat hadiah tambahan karena dia adalah nasabah Citibank. Coba saja tunjukkan kartu kredit yang lain, dijamin, Anda pun akan dibilang beruntung karena mereka ada kerjasama dengan bank tersebut! Apa yang mereka lakukan tidak lain hanyalah teknik permainan psikologis agar calon korban terbuai bujuk rayu, belum lagi dengan lancarnya mereka berkomunikasi dan berekspresi seakan kaget, dan sebagainya.

Dari penelusuran di Internet, ada banyak orang yang menduga mereka menggunakan hipnotis. Tapi saya lebih percaya bahwa mereka hanya sekedar menerapkan teknik persuasif yang jelas telah mendapatkan pelatihan khusus dari PT Aowa Indonesia (yang konon beralamat di Pantai Indah Kapuk). Sempat terlintas di benak saya untuk iseng-iseng melakukan pencarian di Internet dengan kata kunci “penipuan kompor Aowa”, tapi memang entah kenapa waktu itu saya segan sekali untuk mengeluarkan Blackberry dari kantong. Hanya sempat mengelus dari luar celana sekilas.

Akhirnya dengan tegas saya katakan tidak dan terimakasih, sambil terus berlalu (tidak lupa mengambil KTP istri yang mereka pegang). Dan, ekspresi mereka pun kecewa. Aneh kan, masa’ mereka menawarkan hadiah berupa barang bernilai (katanya) belasan juta rupiah (kompor induksi dan pemanggang) lalu saya tolak, tapi mereka yang kecewa? 😀

Usut punya usut, setelah semalaman saya surfing di Internet, pola yang mereka lakukan semuanya sama, setidaknya sejak tahun 2008, di beberapa mal, di beberapa kota di Indonesia! Tapi kenapa mereka masih terus beraksi? Ke mana polisi? Ke mana YLKI? Ke mana Kementerian Perdagangan Republik Indonesia? Padahal (mestinya) telah banyak laporan-laporan kasus tertipu oleh pramuniaga Aowa ini.

Saya yang tidak jadi korban saja terus terang gondoknya setengah mati. Hampir semalam saya kembali lagi ke ITC Cempaka Mas dan meninju si sales. Bagaimana dengan perasaan mereka yang telah tertipu jutaan rupiah membeli produk seperti itu? Buat catatan, ada banyak yang menyebut (di link yang ada di bawah) bahwa produk-produk sejenis (kompor induksi) yang tunggal (kompornya cuma satu; sedangkan yang ditawarkan oleh Aowa kompornya 2) hanya seharga Rp 500 ribuan!

Berikut adalah contoh-contoh link yang layak dibaca untuk meyakinkan Anda semua, bahwa penipuan ini benar-benar ada dan terus berlangsung di sekitar kita. Semua polanya sama, Anda beruntung mendapatkan kupon undian berhadiah utama kompor induksi (baca juga komentar-komentar yang ada di posting ini):

Jadi sekali lagi, jangan sampai kita, atau orang-orang yang di dekat kita juga jadi korban.. Masih ngga percaya? Coba saja temukan mereka di pusat-pusat perbelanjaan. Barang dagangan utama mereka adalah kompor induksi (tanpa api, tanpa asap, tanpa panas)… Coba dekati mereka, pura-pura serius memperhatikan dan berminat. Setelah tanya-tanya sedikit, kemudian berlalu… Nanti mereka akan kasih hadiah kecil (suvenir), tapi diminta tulis nama dan paraf terlebih dahulu, setelah itu ditawari ambil undian, siapa tahu dapat diskon untuk membeli produk mereka. Selalu seperti itu modusnya.

note: kalau ada acara adat nonjokin mereka, mau ikutan juga ah :))

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google