Korps Baret Merah

Written on 16 April, 2007 – 16:41 | by Rahmat Zikri |

Sejak kecil, saya senang sekali dengan segala sesuatu yang berbau militer. Main tentara-tentaraan. Bukan sekadar main tembak-tembakan dan bermain perang-perangan ala pertempuran dalam kota, yang memanfaatkan lorong-lorong di sekitar rumah, tapi juga melahap habis semua bacaan atau tontonan yang berbau militer. Lebih spesifik lagi, yang berbau tentara Indonesia. Apalagi dulu, waktu sedang trend film-film yang bertemakan pertempuran masa kemerdekaan Indonesia. Walau masih kelas 3 SD, saya sanggup menunggu jam tayangnya di TV sekali pun itu tengah malam.

Waktu kecil, mainan saya yang berbau tentara ada seabreg. Kalau lagi ngga ada teman atau malas main di luar rumah, saya seringkali sibuk memainkan prajurit-prajurit plastik yang saya miliki dengan menyusun berbagai formasi tempur. Bukan hanya prajurit infanteri (yang tukang jalan kaki), tapi juga prajurit kavaleri (berkendaraan, bisa kuda atau kendaraan bermotor) dan juga zeni (tukang kerja).

Ada satu benang merah yang saya kagumi dari tentara, jalur komando yang jelas. Selain itu, kedisiplinan dan kerja tim yang dibangun sangat bagus. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada satu organisasi sipil pun yang sehebat struktur organisasi tentara. Begitu juga soal loyalitas terhadap korps nya.

Hari ini, salah satu korps yang sangat saya kagumi, yaitu Korps Baret Merah alias Kopassus (Komando Pasukan Khusus) berulangtahun ke-55. Selamat happy anniversary! Dirgahayu.

Mengupas sedikit asal-usul sejarah korps baret merah ini, ternyata diawali dari seorang pekebun bunga tulip yang bermukim di Bandung. Bapak Idjon Djambi, dialah orang pertama yang mengorganisasi pelatih pasukan cikal bakal korps ini. Ide awal sebenarnya datang dari Kolonel Albert Evert Kawilarang, yang lebih sering ditulis di berbagai artikel dengan nama A.E. Kawilarang. Dia-lah yang kemudian dikenal sebagai Bapak pendiri Korps Baret Merah.

Ceritanya, pasukan di bawah pimpinan Kolonel Kawilarang mengalami kesulitan di medan tempur ketika menjalankan operasi penumpasan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Sang kolonel memimpikan mempunyai pasukan komando yang sanggup bergerak cepat dan tangkas. Masalahnya, siapa yang akan mengorganisir dan melatih?

Sampai suatu ketika Kolonel Kawilarang bertemu dengan Pak Idjon, yang adalah mantan kapten KNIL Belanda, yang bernama asli Rokus Bernandus Visser. Pak Idjon menyanggupi. Kolonel Kawilarang sendiri kemudian menyusun pedoman pasukan khusus, yang diformalkan pada 16 April 1952 (tanggal inilah yang kemudian dijadikan sebagai hari lahir Kopassus). Ironisnya, pada jaman orde baru, keberadaan sang kolonel (A.E. Kawilarang) seperti tidak dianggap. Kalau tidak salah karena sang kolonel pernah terlibat dalam Permesta. Baru ketika era reformasi, Kolonel Kawilarang bisa kembali menghadiri upacara peringatan hari ulangtahun korps baret merah.

Awalnya, pasukan khusus ini adalah bagian dari Tentara Teritorium III/Siliwangi (sekarang dikenal sebagai Komando Daerah Militer (Kodam) III/Siliwangi), yang selanjutnya naik ke kancah nasional. Sebelum akhirnya bernama Kopassus (tahun 1986), pasukan ini sempat beberapa kali ganti nama. Pertama kali bernama Korps Komando Angkatan Darat (KKAD, 1953), lalu Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD, 1955) dan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha, 1971).

Dari sekian banyak kisah sukses operasi-operasi yang pernah dijalankan, salah satu yang menjadi favorit saya adalah kisah pembebasan sandera pembajakan pesawat Garuda di bandara Don Muang, Thailand. Operasi yang dikenal dengan nama Operasi Woyla, di bulan Maret 1981.

Ceritanya, pesawat Garuda yang menjalani rute Jakarta-Medan itu dibajak oleh sekelompok orang, dalam penerbangan Palembang-Medan. Ketika itu, rute Jakarta-Medan memang transit di Palembang, tidak direct seperti sekarang. Dari informasi intelijen, pembajak yang bersenjata itu akan menerbangkan pesawat ke bandara Don Muang, Thailand.

Dalam pertemuan singkat di Cendana, kediaman presiden (ketika itu) Soeharto, sang presiden memilih penyelesaian dengan opsi militer. Untuk itu segera dipilih dan dibentuk pasukan antiteror yang akan menjalankan tugas ini. Dalam waktu singkat hanya hanya hitungan jam, pasukan ini berlatih keras. Termasuk memanfaatkan pesawat berjenis sama seperti yang dibajak, DC-9, yang berada di Jakarta. Dalam simulasi tersebut, disimpulkan bahwa waktu penyelesaian yang dibutuhkan adalah 2,5 menit saja. Ya, dua setengah menit saja! Sebuah waktu fantastis yang saya kagumi sampai sekarang. Memang dalam pelaksanaannya meleset. Uuppss, hanya meleset dalam hitungan detik, tetap saja kurang dari 3 menit!!!

Setelah komandan serbu (ketika itu Letkol Sintong Pandjaitan) memberi aba-aba, pasukan mendobrak pintu bersamaan. Kontak senjata saling tembak terjadi antara pembajak dan pasukan Kopassandha. 1 orang gugur dari prajurit Kopassandha. Sedang di sisi pembajak, seluruhnya tewas termasuk sang pemimpin.

Walau dari sekian banyak cerita heroik, nama korps baret merah tidak selalu baik. Ada beberapa kasus yang membuat nama korps ini sempat tercoreng. Salah satunya adalah Tim Mawar, yang dituding sebagai biang keladi hilangnya beberapa aktivis pada masa-masa menjelang dan seputar turunnya Soeharto di tahun 1998.

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google