Minum Kopi Yuk

Written on 9 October, 2007 – 12:20 | by Rahmat Zikri |

Minum kopi adalah salah satu ritual wajib saya setiap hari. Ngga mungkin lupa. Karena ‘alarm’ dalam metabolisme tubuh sudah otomatis akan mengingatkan jika pada hari tersebut saya belum meng-konsumsi zat kafein yang terkandung dalam setiap cangkir kopi.

Sejak usia SD/SMP saya sudah suka dengan kopi. Tapi sekadarnya saja. Belum tentu seminggu sekali minum kopi. Kebiasaan minum kopi ini baru muncul ketika masuk SMA. Tepatnya ketika saya mulai memiliki sebuah PC (baca tulisan sebelumnya).

Berdasarkan jenisnya, kopi bisa dikelompokkan menjadi 2 (dua) jenis, kopi robusta dan kopi arabika. Tidak sulit untuk membedakan keduanya. Berdasarkan aromanya saja sudah bisa dibedakan. Paling gampang disebutkan di sini adalah bahwa kopi arabika itu beraroma wangi dan ’ringan’. Sebaliknya, kopi robusta beraroma lebih ’berat’.

Dari aromanya saja, bisa ditebak dengan mudah bahwa kopi-kopi yang banyak ditemukan di kafe-kafe yang menjamur di pusat-pusat perbelanjaan di banyak kota itu hampir bisa dipastikan berjenis kopi arabika. Jenis kopi ini cocok sekali sebagai teman santai. Bahkan untuk diminum oleh kaum perempuan sekali pun. Kopi jenis ini bukanlah jenis kopi yang cocok untuk teman begadang. Karena efek kafeinnya tidak cukup untuk membuat mata terbelalak tanpa kantuk.

Sebaliknya, jenis kopi yang pas untuk teman begadang atau ronda di malam hari adalah kopi robusta. Ciri khas dari kopi ini adalah berasa lebih pahit. Aroma wangi bukanlah nilai utamanya, melainkan kepekatan dan kepahitan yang khas-lah yang menjadi kelebihannya. Kopi jenis ini lebih banyak ditemukan di warung-warung pinggir jalan atau di terminal. Karena bagi mereka yang sering berada di tempat-tempat tersebut, yang namanya ngopi itu tujuannya memang untuk melek-melekan. Beda dengan peminum kopi di mall.

Kopi robusta banyak dihasilkan di daerah dataran rendah. Contoh kopi robusta yang populer di Indonesia adalah kopi Lampung. Beberapa merek yang saya kenal di kampung halaman kini dapat dengan mudah saya ditemukan di beberapa pasar swalayan, setidaknya di Jakarta atau Bandung. Sedangkan kopi arabika berasal dari daerah dataran tinggi. Penghasil kopi arabika di Indonesia yang menjadi favorit saya adalah kopi Toraja.

Selain Lampung dan Toraja, masih ada beberapa daerah lain di Indonesia yang juga menghasilkan kopi dengan kualitas dan rasa yang bagus. Kopi asal Indonesia ini sejak beberapa abad yang lalu sudah terkenal di mancanegara. Saking terkenalnya, salah satu bahasa pemrograman yang populer saat ini, yaitu bahasa Java, diambil dari kopi Indonesia! Ceritanya, para pencipta bahasa pemrograman Java itu bingung mau memberi nama apa pada bahasa pemrograman yang mereka ciptakan. Karena selama membuat bahasa pemrograman itu mereka gemar sekali minum kopi, maka tersebut-lah nama Java (dari jaman Belanda dulu kopi Indonesia yang terkenal di dunia adalah kopi jawa). Itu sebabnya logo Java menggunakan gambar secangkir kopi hangat yang masih mengeluarkan hawa panasnya.

Ketika saya merantau ke Bandung untuk berkuliah, saya berkenalan dengan Kopi “Aroma”, Yang satu ini adalah nama pabrik dan toko kopi di daerah pecinan lama di Bandung. Tepatnya di Jalan Banceuy, dekat Asia-Afrika. Pabrik kopi ini sudah ada sejak akhir jaman pendudukan Belanda di Indonesia. Ngga heran jika pada suatu waktu kita melihat ada rombongan belanda-belanda tua yang berkunjung ke situ. Tempat ini mungkin adalah salah satu nostalgia masa kecil mereka waktu di Bandung. Atau mungkin mama/papa/oma/opa/oom/tante-nya yang pernah cerita kalau di Bandung ada tempat kopi yang lekker (enak).

Yang menarik dari pabrik kopi ”Aroma” adalah cerita dibalik kopi yang dijual. Ternyata mereka menyimpan biji kopi selama bertahun-tahun terlebih dahulu sebelum akhirnya digiling. Kopi robusta akan disimpan selama kurang lebih 5 tahun, sedang kopi arabika bisa disimpan selama 8 tahun sebelum digiling! Menurut Pak Widya –generasi yang sekarang mewarisi pabrik kopi ini—penyimpanan itu tujuannya untuk meminimkan kadar asam dalam kopinya, sehingga dia berani menjamin orang yang sakit maag sekali pun tetap aman meminum kopinya.

Selain menyediakan kopi jenis robusta dan arabika, kalau mau kita bisa saja meminta disediakan kopi campuran antara robusta dan arabika. Perpaduan antara robusta dan arabika tentunya memberikan cita-rasa gabungan antara keduanya. Hasilnya, kopi yang tidak terlalu wangi memang, tapi juga tidak terlalu berat sehingga membuat mata melek dan jantung berdebar-debar. Beberapa jenis kopi yang dijual di pasaran dalam merek-merek dagang tertentu juga ada yang dengan jelas menyebut bahwa produknya merupakan hasil kombinasi antara kopi robusta dan arabika.

Dari berbagai macam cita rasa kopi di nusantara yang pernah saya minum, yang paling menarik buat saya ternyata adalah kopi Aceh! Jika anda berkesempatan berkunjung ke Banda Aceh dan suka kopi, jangan lewatkan kesempatan berkunjung ke kedai-kedai kopi di sepanjang Jalan Ulee Kareng. Seperti kebanyakan orang di Indonesia, warung kopi di Aceh juga menjadi tempat nongkrong dan ngobrol yang asyik. Namun, dari semua itu, yang membuat tempat ini jadi menarik adalah anda bisa mencicipi kopi campur. Bukan campuran antara robusta dan arabika, tapi kopi Aceh campur ganja! Wah, ini rasanya benar-benar Aceh.

Orang Aceh memang menggunakan daun ganja sebagai bumbu dapur. Penyedap rasa. Dan ternyata juga dijadikan ’penyedap’ kopi. Saya pernah membawa pulang 1,5 kilogram kopi aceh campur ganja, dibungkus per ¼ Kg buat oleh-oleh ke teman-teman yang suka kopi juga. Jika tanpa ganja harganya Rp 30.000,00/Kg, kalau pakai ganja Rp 40.000,00/Kg. Itu harga di tahun 2006. Jika melihat harganya, artinya jumlah daun ganja yang dicampurkan tidak banyak. Ya memang benar-benar sebagai penyedap saja. Namun demikian, tidak gampang juga untuk mendapatkannya. Mereka mesti yakin bahwa kita bukan aparat. Itu pun harus pesan paling tidak sehari sebelumnya, karena tidak ada stok yang disimpan.

Khusus untuk kopi Aceh ini, saya bingung memasukkan klasifikasinya ke mana. Dibilang kopi robusta, wanginya kok enak sekali. Dibilang arabika, tapi kok ya bikin mata melotot.

Saking tajamnya aroma kopi Aceh ini, saya bisa cium baunya di dalam pesawat, padahal kopi tersebut adanya di dalam tas pakaian yang saya taruh di dalam bagasi di atas kepala. Malah sebenarnya tidak persis di atas kepala saya, tapi di atas kepala orang yang ada di deretan depan saya. Sialnya ternyata pemilik kepala itu adalah Onno W. Purbo, yang ternyata sama-sama habis berkunjung di Banda Aceh!

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google