Kenangan dengan Pak Harto

Written on 8 June, 2007 – 20:36 | by Rahmat Zikri |

soeharto.jpg Pada hari ini, 8 Juni 2007, mantan Presiden Republik Indonesia berulangtahun yang ke-86. Pak Harto dilahirkan di sebuah desa yang bernama Kemusuk, Argomulyo, di Yogyakarta, pada tahun 1921.

Pada tulisan ini saya tidak bermaksud membahas panjang lebar tentang sosok Pak Harto. Sosok yang pernah berkuasa di negeri ini selama 32 tahun jelas bukan tokoh yang tidak dikenal. Semua sudah tahu, walau mungkin hanya secara garis besar, bahwa Soeharto mengawali karir di dunia militer, ikut berjuang pada perang kemerdekaan, sampai pada peristiwa G30S/PKI yang membawanya ke dunia politik di tanah air.

Setiap kali melihat wajah Pak Harto, ada satu hal yang saya ingat, dulu saya pernah surat-suratan dengannya. Hal ini pula-lah yang mengingatkan saya ketika sadar bahwa hari ini Pak Harto berulangtahun. Ya, mungkin sekali sebenarnya surat saya tidak dibaca oleh beliau. Yang membalas pun jelas bukan beliau. Tapi yang jelas dulu saya pernah balas-balasan. Sekurangnya 2-3x saling balas.

Pertama kali “bertegur-sapa” dengan Pak Harto adalah ketika saya duduk di kelas IV B, SD Negeri 2 Telukbetung Selatan, Bandarlampung, sekitar tahun 1984-85. Surat pertama saya hanyalah sebuah kartu ucapan selamat hari raya idul fitri, tentunya dengan beberapa kalimat yang saya tulis sendiri di kartu murahan yang saya beli di emperan halaman Kantor Pos di dekat rumah. Lupa dulu bilang apa di kartu itu. Yah yang pasti seputaran selamat lebaran untuk Pak Harto sekeluarga. Itu pun saya kirim dengan asal tebak, karena ngga tahu nomor rumah dan kode pos Pak Harto. Saya masih ingat, dulu surat saya tujukan ke:

Kepada Yth.
Bapak Presiden Soeharto dan Keluarga
Jl. Cendana no.1
Jakarta Pusat

Begitu saja. Belakangan saya baru tahu kalau ternyata rumah Pak Harto bukan di rumah nomor 1. Tapi yang penting pak pos tahu-lah. Yang penting sampai. Pada keterangan pengirim, saya menggunakan alamat sekolah, lengkap dengan keterangan kelas IV B nya.

Gotcha! Ternyata kartu lebaran saya dibalas. Memang agak telat, karena lebaran sudah lewat. Tapi tetap saja, better late than never. Bikin heboh guru-guru, bikin heboh sekolah. Karena ada kiriman untuk Ananda Rahmat Zikri, Murid kelas IVB, SD Negeri 2 Telukbetung Selatan…. dari Presiden Republik Indonesia!

Dengan hati yang berbunga-bunga karena dapat balasan kartu lebaran dari Pak Harto, saya nekat menulis surat. Kiriman yang ke-dua ini jelas bukan sekadar kartu ucapan. Kali ini benar-benar surat yang saya tulis tangan, pada beberapa lembar kertas surat bergaris yang saya beli di toko yang juga dekat rumah. Yang jelas bukan hanya selembar. Banyak yang saya tulis di situ. Lupa, apa saja isinya. Pastinya 2-3 lembar. Mungkin lebih. Intinya, saya mengucapkan terimakasih atas balasan kartu lebarannya. Cerita kalau saya ranking 1 di sekolah. Cerita bagaimana lingkungan di sekitar saya. Lalu saya juga meminta sebuah kenang-kenangan lagi dari Pak Harto, saya minta foto beliau berdua Ibu Tien Soeharto.. lalu minta foto tersebut ditandatangani.

Nah, untuk kali ini balasannya agak lambat. Malah saya nyaris hampir melupakan permintaan tersebut. Saya pun telah naik kelas ke kelas V B. Tiba-tiba seorang guru piket mengetuk pintu kelas, memanggil saya. Lagi-lagi heboh. Kali ini saya menerima kiriman paket dari Sekretariat Negara Republik Indonesia. Waktu bungkusan dibuka, ternyata isinya sebuah foto ukuran 10R dengan bingkai bertuliskan Presiden Republik Indonesia, foto Pak Harto berdua Ibu Tien Soeharto, lengkap dengan tandatangan mereka berdua dengan tinta emas!

Sebagai surat pengantar kali ini adalah sebuah surat yang ditandatangani oleh (Brigjen) G.Dwipayana. Sekretaris Presiden kala itu, yang sebenarnya lebih saya kenal namanya pada serial “Si Unyil” di awal dekade 80-an. Kalau tidak salah dulu posisi Pak G.Dwipayana di “Si Unyil” adalah sebagai sutradara. Lagi-lagi saya ngga ingat apa isinya. Cuma ingat yang tandatangan di surat itu adalah G.Dwipayana.

Surat-suratan pun masih berlanjut. Tapi pada surat yang berikutnya ini permintaan saya ngga dipenuhi. Salah satu yang saya ingat adalah saya ingin sekali punya sepeda. Ketika itu ada pabrik sepeda di Lampung, yang konon punya keluarga Cendana. Desas-desus itu pula-lah yang mengilhami surat saya yang isinya minta sepeda. Ada juga cerita bahwa ada anak Indonesia yang pernah dikasih sepeda oleh Pak Harto. Entah karena mungkin ketika disurvai oleh intel ternyata orangtua saya dianggap mampu membelikan sepeda atau sebab lain, yang jelas sampai sekarang (setelah lewat 2 dekade) saya tetap tidak dapat sepeda dari Pak Harto, juga belum pernah sekali pun punya sepeda :-(

Di surat yang lain, saya ‘curhat’ membayangkan enaknya jadi anak Pak Harto. Dengan eksplisit pula pernah secara tersurat bilang supaya Pak Harto mengangkat saya sebagai anak. Entah apakah ada anak Indonesia yang lebih nekat dari saya ketika itu. Kalau dipikir-pikir, gokil juga. But it was really fun!.

Kenekatan saya yang lain pada jaman SD adalah ketika mengirim surat ke Menteri Pemuda dan Olahraga ketika itu, Abdul Gafur, untuk menantang salah satu dari dua petinju top Indonesia waktu itu, Ellyas Pical atau Yani Hagler, kalau berani lawan sepupu saya yang lagi doyan body building. Walau anak SD, tapi soal hitung-hitungan duit ngerti banget. Saya yakin kalau kakak sepupu saya itu diadu dengan salah satu dari petinju top itu, bisa menang. Badannya lebih besar. Lumayan kalau saya jadi promotor dia gebuk-gebukan dengan Ellyas Pical. Tapi suratnya ngga dibalas :-(

Memasuki usia SMP, saya mulai ‘bosan’ dengan Pak Harto. Sebenarnya bukan dengan Pak Harto-nya sih. Tapi dekat lingkungan di sekitarnya. Walau usia SMP (1987-1990), saya cukup memahami sepak terjang orang-orang di sekitar Pak Harto, bagaimana mereka menguasai bisnis, menguasai dunia politik. Dengan Golkar sebagai mesin politiknya, semua yang tidak berwarna “kuning” bisa susah.

Kebetulan Ibu saya ketika itu aktif di dunia politik, dengan posisi terakhir sebagai Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (DPW PPP) Propinsi Lampung. Dengan posisi sebagus itu pun ternyata pada tahun 1987 gagal menembus kursi legislatif di DPRD Propinsi. Penggembosan PPP yang terjadi di tahun 1987 meluluhlantakkan perolehan suara yang sangat merosot dibandingkan pada Pemilu tahun 1982. Seingat saya, tahun 1982 PPP Lampung sekurangnya kebagian 5 kursi, tapi tahun 1987 hanya 1 atau 2. Prosedurnya, nomor 1 untuk ketua, nomor 2 untuk sekretaris. Golkar-isasi nyaris absolut. Menguasai kursi sekitar 90%!

Oh iya, cerita sedikit tentang Ibu, sebenarnya beliau lebih aktif di dunia dakwah. Memulai ‘perjumpaannya’ dengan politik melalui Aisyiyah (Organisasi kewanitaan di Muhammadiyah), yang berlanjut ke Muslimin Indonesia (MI) — yang pada Pemilu 1955 bernama Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Masyumi dibekukan di jaman Orla, kalau tidak salah karena dianggap menentang Orla. Lalu berubah wujud menjadi Partai Muslimin Indonesia, yang selanjutnya berubah menjadi MI. MI bersama Nahdlatul Ulama (NU), Syarikat Islam (SI) dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah Indonesia (Perti) melebur menjadi Partai Persatuan Pembangunan (5 Januari 1973).

Pada awal-awal saya duduk di bangku sekolah dasar, sempat juga menikmati indahnya “jadi anggota dewan yang terhormat”. Ketika itu Ibu di DPRD Tingkat II Kotamadya Tanjungkarang-Telukbetung (pada tahun 1982 berubah nama menjadi kotamadya Bandarlampung). Ibu ngga berani meninggalkan saya sendiri di rumah, berdua dengan pembantu. Karena katanya saya bandel luar biasa. Ngga bakal nurut dengan orang lain, kecuali dengan beliau. Jadi, daripada “diapa-apain” sama pembantu, mending diajak ngantor di DPRD. Kadang saya ikut sidang juga.. kecuali sidang pleno, karena tidak boleh ada anak kecil. Enak juga. Kalau giliran anggota dewan yang terhormat jalan-jalan ke luar kota, saya ikut. Hahaha.

Nah, begitu masuk SMP, jadi sebal dengan sepak terjang Golkar yang membuat semua orang dipaksa nyoblos Golkar. Karena jelas saya juga kena imbasnya. Hahaha.. Itu sih alasan pribadi. Tapi alasan umum, semua juga tahu bagaimana sepak terjang Orde Baru. Pak Harto sebenarnya baik. Jelas banyak jasanya pada bangsa ini. Tapi orang-orang di sekitarnya yang memanfaatkan berbagai fasilitas yang membuat bangsa ini jadi luluhlantak. Secara langsung atau tidak, tetap saja Pak Harto punya andil dalam memudahkan orang-orang itu merajalela.

Hasilnya, pada jaman SMP ini, surat-surat dan foto Pak Harto yang saya dapatkan di jaman SD pun masuk dalam gudang. Kalau saya cari mungkin masih ada. Yah, mestinya memang harus saya cari. Memorabilia. Bagaimana pun Pak Harto tetap berjasa dan patut dikenang.

Selamat ulangtahun Pak Harto!

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--
  1. 20 Responses to “Kenangan dengan Pak Harto”

  2. By Nila on Jun 8, 2007 | Reply

    wah,, posting kali ini, si Tante ikutan di kupas tuntas.. hehehe..
    Selamat ulang tahun Tante.. (maaf terlambat, better late than never, right..? nah lho, yg ultah siapa,,yg di selamatin siapa..hehehe..)

    Selamat ulang tahun Pak Harto…..

  3. By Zikri on Jun 8, 2007 | Reply

    #1
    loh, bulan lalu ngga mau ngomong langsung sih :-p

  4. By Anis on Jun 8, 2007 | Reply

    Nama G. Dwipayana itu munculnya pas barengan sama gambar bapaknya si Unyil, jadi dulu gw ngiranya G. Dwipayana itu yang memainkan peran bapaknya si Unyil. Ternyata sekretaris presiden to ..

  5. By Mira on Jun 8, 2007 | Reply

    yah nomor empat deh

  6. By susanvirna on Jun 8, 2007 | Reply

    selalu ada yang seru dari penyajian bahasa dan ceritanya…menarik Zik :)….
    diapa-apain pembantu… hmmmm..emang suka diapain ..?

  7. By endhoot on Jun 9, 2007 | Reply

    BAPAK DATAAAAANNNGGGG!!!
    *cekikikan*

  8. By Zikri on Jun 9, 2007 | Reply

    waduh… ada private message yg ngira gw ngga bisa naik sepeda.. bisa mah bisa. mau atraksi ala BMX dulu juga bisa. masalahnya ngga dikasih sepeda karena rumah di pinggir jalan protokol :D

  9. By Nila on Jun 11, 2007 | Reply

    postingannya mana lagi nih,, pgn baca lagi jadinya,,

  10. By Zikri on Jun 11, 2007 | Reply

    #8
    posting apa lagi yahhhh? kata kak otoy, posting “ketemu nila” yee.. =))

  11. By Nila on Jun 12, 2007 | Reply

    ppsstt, nanti om Otoy ikutan baca.. =P

  12. By yanti on Jun 12, 2007 | Reply

    hehe seru juga ceritanya :D

  13. By susanvirna on Jun 12, 2007 | Reply

    bersahut-sahutan….kayak orang lagi pacaran aja….:)

  14. By Ratna on Jun 13, 2007 | Reply

    Aku sih ga mo komentar soal Soeharto ah… dah ocen. Justru yang menarik perhatian ku, ‘sepak terjang’ mas Zik.. hehe.. Lucu bangeett.. Kebayangnya tuh anak kecil, trus niat banget n serius gitu surat-suratan dengan sepenuh hati n penuh harapan. Sampe beli kartu, kertas surat, nulis berhalaman-halaman, trus bikin heboh di sekolah. Lalu dengan polosnya minta di beliin sepeda, tapi pinter juga sih, karena udah tau infonya bahwa bapake punya pabrik sepeda di Lampung.. haha… Kecil-kecil dah punya taktik. Trus nekad n sok teu pula nantang tinju a.n. sepupu. Ah elo kok lucu amat sih zik? tapi itu jaman duluuu… ga tau deh sekarang, masih lucu gak ya? :-) Ini komen apa naon ya? hehe.. hampir menyaingi blognya sendiri.. Dah ah..

  15. By sarung cap mangga on Jun 19, 2007 | Reply

    Zikri,
    I know you were born to be something special . From the moment I read your name on the sign board of our English course “Technocrat college” , as 1st list in Examination . That was 1987 . I know you must have done something big , other than trying to be disc jokey on a Noon Disco club . Back then in high school I found out that you managed to impress girls by coppying their fave love songs on 60 m cassete. It was a nice profile . And now it impress me more .

  16. By firman on Jun 20, 2007 | Reply

    hahahha… keren2.. bisa dapet fotonya pak harto+bu tien + tanda tangannya segala… wah, bisa kebayang deh gimana gemparnya sekolahan lu huheuheuhue, kapan ya? dollar jadi 2500 lagi :p huehuehuheu…

  17. By Endah on Jun 25, 2007 | Reply

    hu hu hu.. jadi inget dulu pernah nyuratin Axl Rose tapi ga pernah dijawab :(

  18. By aBang on Jul 17, 2007 | Reply

    datuk koq ga diceritain bang zik? wehehhehhe,,, satu2nya surat yg pernah ogud tulis adalah buat itb supaya ogud dikasih beasiswa, and dibales via telegram sampe 2x dibilang “iya dikasih, tapi daftar ulang dulu” hehehhehe,,, coba dulu juga kreatip ya nulis surat buat mbah harto…^^

  19. By Setan Kridit on Jul 30, 2007 | Reply

    bang,

    kala itu itb blm punya duid lebih.. jadi aja abang ga dapet beasiswa, coba kalo sekarang.. pasti dapet.. ya gak zik? :))

  20. By wong bodho melu ngomong on Dec 16, 2007 | Reply

    tetanggaku (almarhum) dulu juga nulis surat buat pak harto. soalnya dia sekolah tinggi2 tapi nggak dapat kerja, maklum nggak punya duit buat ngasih pelumasnya. so, dia kirim surat ke mbah soeharto di cendana, lengkap dengan semua copy nilai2 pelajaran yg dia dapat selama sekolah. intinya minta tanggung jawab moral mbah soeharto sebagai presiden agar dia bisa dapat pekerjaan yang sesuai. di tulis pula sudah susah payah belajar siang dan malam, juga puasa senin kamis agar pintar, tapi apa hasilnya klo ternyata sudah sukses dari semua ujian tapi tetap saja tidak punya pekerjaan. pokoknya suratnya panjang banget kaya kereta dari china.

    hasilnya, kurang lebih 3 bulan setelah surat dikirim (dianya juga dah putus asa) eh ada surat balasan dari istana negara, ha3x… orang tuanya strres luar biasa mengetahui anaknya dapat surat dari presiden, jadi anaknya di interogasi luar biasa (maklum wong deso) hebohnya mungkin sama ama zikri waktu kecil dulu. dan lebih heboh lagi waktu di dalam amplop surat itu ada amplop lain yang ternyata rekomendasi agar tetanggaku itu membawa surat lamaran pekerjaan ke PT. PERTAMINA di cilacap, beserta dengan surat khusus itu. katanya nilai pelajarannya cocok buat bekerja di PERTAMINA. akhirnya dengan harap2 cemas berangkat juga dia ke pertamina, setelah mekewati prosedur yang ada perjuangnya akhirnya goal juga dech.

    amplop dari presiden memang punya khasiat luarbiasa. (soalnya tumben dia ngelamar pekerjaan tanpa ada banyak pertanyaan nggak perlu yang intinya minta pelumas!!) dia cuma perlu nyiapin berkas lamaran, sedikit testing, dan diterima. sayangnya TUHAN manggil dia terlalu cepat, dia di panggil menghadap sang pencipta pada posisi terakhir sebagai kepala bagian pemasaran (klo nggak salah inget) gara2 tertabrak mobil waktu keluar dari kilang minyak bersama anak buahnya yang mengendarai sepeda motor. padahal malam harinya dia baru bilang pengin jalan2 naik sepeda motor.

  21. By yohanes noy noy on Mar 17, 2013 | Reply

    Saya benci golkar sampai sakarang, tapi sama pak harto saya salut semoga arwah beliu diterima disisi Allah. amiin

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google