Mata Hari Sang Penari Telanjang

Written on 20 June, 2007 – 08:43 | by Rahmat Zikri |

matahari.pngIntelijen dan pernak-perniknya merupakan salah satu point of interest saya. Dan kebetulan salah satu legenda di dunia intelijen –di tingkat dunia– pernah hidup di Indonesia.

Mata Hari, demikian sang legenda ini dikenal di dunia intelijen. Mata Hari bukanlah nama sebenarnya. Sang legenda yang hidup di jaman perang dunia pertama ini mengubah nama pemberian orang tuanya, Margaretha Gertruida Zelle, menjadi Mata Hari (memang begitu penulisannya, sebenarnya yang dimaksud adalah matahari), dengan harapan agar dapat mengubah jalan hidupnya, seperti halnya matahari.

Margaretha Gertruida Zelle dilahirkan di Leeuwarden, Belanda, 7 Agustus 1876. Sejak sekolah dia sudah terlibat skandal seks, sehingga pernah dikeluarkan dari sekolahnya karena ketahuan memiliki skandal dengan sang kepala sekolah. Mungkin ini adalah pelajaran pertama yang dia peroleh soal teknik bercinta, yang kemudian sangat berguna dalam menjalankan aksinya sebagai mata-mata.

Margaretha menikah di Amsterdam pada usia 18 tahun dengan perwira tinggi Belanda yang bernama Rudolf MacLeod, yang usianya 20 tahun lebih tua darinya. Setelah menikah mereka pindah ke Semarang. Lalu pindah ke Malang dan Sumatra (tentunya dulu belum bernama Indonesia, tapi masih bernama Hindia Belanda/Dutch East Indies) mengikuti penugasan militer sang suami. Pasangan ini memiliki 2 orang anak, laki-laki dan perempuan yang bernama Norman dan Jeanne-Louise. Namun anak laki-lakinya meninggal diracun oleh pembantu mereka yang kecewa dengan sang majikan.

Selama di tanah Jawa, Margaretha terpesona dengan eksotisme lingkungan dan alam tanah Jawa. Kecintaannya inilah yang kemudian menginspirasikannya untuk menggunakan nama Mata Hari sebagai nama panggungnya, kelak ketika ia berprofesi sebagai penari sekembalinya ke Eropa.

Tinggal di pulau Sumatra yang kala itu berhutan lebat dan kehidupan yang keras membuat Margaretha tidak kerasan. Apalagi setelah anak laki-lakinya meninggal. Akhirnya pasangan ini pun kembali ke Belanda di tahun 1902 dan bercerai tak lama kemudian.

Setelah bercerai, putri satu-satunya dibawa oleh sang ayah. Margaretha sendiri memilih pergi ke Paris untuk meraih impian menjadi kaya dan terkenal dengan cara menjadi penari balet profesional. Namun ternyata hal itu tidaklah semudah seperti yang dibayangkan. Untuk menjadi penari balet yang handal perlu berlatih sejak usia dini dan latihan bertahun-tahun tanpa henti. Akibatnya ia pun banting setir ikut sebuah klub sirkus sebagai penunggang kuda. Bagaimana mungkin menjadi kaya?

Jalan hidup Margaretha berubah ketika tanpa sengaja ia melihat sebuah pameran kesenian bernuansa etnis Asia, yang kebetulan sekali ada tarian Jawa dan gamelan yang mengiringi, lengkap dengan ornamen-ornamen dan replika candi-candi Jawa sebagai latar. Kondisi ini mengilhami Margaretha untuk menjadi penari pada kelab malam dengan mencoba menarikan tari Jawa sebisanya seperti yang sering ia lihat dulu ketika berada di tanah Jawa. Bondho nekat, alias modal keberanian saja.

Kemunculannya dengan tarian Jawa yang dibawakan dengan eksotis dan kemudian –maaf– melucuti pakaian satu persatu sampai telanjang segera melambungkan namanya. Apalagi orang percaya dengan pengakuannya yang mengaku berdarah Asia, karena wajah, warna mata dan kulit serta rambut yang mendukung, yang menambah otentitas dirinya sebagai ikon penari Asia di daratan Eropa. Padahal dia orang Belanda. Margaretha mulai memakai nama panggungnya, Mata Hari, yang terdengar asing namun eksotis di telinga orang-orang bule tersebut, agar terlihat benar-benar Asia.

Ketenarannya sebagai penari membuatnya melanglang buana mengelilingi beberapa tempat di Eropa, bahkan sampai ke Mesir. Kondisi inilah yang akhirnya menyeret dirinya ke dalam dunia intelijen. Pertama kali ia direkrut oleh seorang agen rahasia Jerman ketika ia menari telanjang di Berlin. Ketenarannya sebagai penari yang berkeliling ke berbagai tempat memudahkannya untuk menyusup tanpa kesulitan. Apalagi ketenaran dan kecantikannya juga dimanfaatkan untuk melakukan affair dengan banyak orang penting. Mirip sekali dengan aksi wanita-wanita cantik yang selalu bertabur dalam setiap film agen rahasia 007 James Bond. Mata Hari sendiri memiliki kode rahasia H21.

Konon Mata Hari lebih senang tinggal di Paris, karena di sini dia bisa berhubungan bebas dengan pacar-pacarnya secara bergantian. Akibatnya, agen rahasia Perancis pun merekrut dia sebagai mata-mata pula. Jadilah Mata Hari sebagai double agent.

Peran Mata Hari sebagai agen ganda terendus oleh MI5, agen rahasia Inggris, yang segera menginterogasinya. Namun mereka gagal memaksa Mata Hari untuk mengaku. Sampai akhirnya Agen Rahasia Perancis berhasil menangkap dan menginterogasinya saat dia akan menyeberangi Perancis untuk mengunjungi salah satu affair-nya. Agen Rahasia Perancis menangkap Mata Hari karena diyakini dialah “The Greatest Woman Spy” yang mesti bertanggung jawab atas kematian beribu-ribu tentara akibat informasi yang diberikannya. Dia lalu diadili di pengadilan perang dan dieksekusi dihadapan regu tembak pada 15 Oktober 1917.

Kisah tentang kehidupan Mata Hari telah difilmkan belasan kali. Satu di antaranya diproduksi tahun ini di Indonesia, dengan judul Sang Penari. Pada film ini Tamara Bleszynski akan berperan sebagai Mata Hari.

Dari berbagai referensi yang pernah saya baca, saya hanya menganggap Mata Hari sebagai informan. Orang yang dimanfaatkan oleh agen rahasia (yang utama) untuk mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan. Hal semacam ini lumrah dilakukan di mana-mana. Bahkan pada tataran bawah sekali pun, misalnya pihak kepolisian sektor (Polsek) memanfaatkan preman kampung yang diajak berteman akrab, agar dapat memperoleh banyak informasi penting. Dalam hal ini si preman bukan berarti agen rahasia (a.k.a intel).

Bukan berarti memandingkan Mata Hari dengan preman pasar, tapi secara logika seperti itulah yang saya tangkap. Yang membedakan adalah sepak terjang Mata Hari yang begitu menghebohkan di jaman Perang Dunia I. Dan yang tidak boleh dilupakan, dia secara langsung atau tidak langsung ikut memperkenalkan budaya Jawa di daratan Eropa, walau ada kebablasannya, pakai acara telanjang.

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google