IT KPU Jalan Mundur

Written on 10 April, 2009 – 13:46 | by Rahmat Zikri |

logo-pemilu Sebelum hari H pelaksanaan Pemilu 2009, kita bisa melihat perkembangan dan membaca berita seputar rencana implementasi IT KPU. Keyword seputaran “IT KPU diprediksi bakal berantakan” muncul di berbagai tempat.

Apakah pada hari ini kita benar-benar akan melihat IT KPU berantakan seperti prediksi berita-berita tersebut? Tentu kita tidak berharap demikian. Point of interest dari tulisan ini adalah melihat dari sudut pandang end-user (dalam hal ini pengguna Internet yang akan melihat hasil publikasi tabulasi penghitungan suara melalui situs KPU), jika dibandingkan dengan pelaksanaan IT KPU pada Pemilu 2004. Tulisan juga ‘dibumbui’ dengan sedikit data dan pengalaman saya sebagai bagian dari anggota tim pelaksana pada implementasi IT KPU Pemilu 2004.

Distribusi IT KPU 2004

Distribusi perangkat IT KPU pada Pemilu 2004 melingkupi:

  • 8005 buah PC yang didistribusikan ke 4167 kecamatan (440 kabupaten/kota, 32 propinsi)
  • 30 server 32bit dan 4 server itanium 64bit di 2 lokasi data center (DC) dan disaster recovery center (DRC)
  • 2569 perangkat VPN Dial (untuk kecamatan-kecamatan yang terjangkau oleh infrastruktur data PT Telkom)
  • 1850 perangkat telepon satelit (untuk kecamatan-kecamatan yang tidak terjangkau oleh infrastruktur data PT Telkom, pengiriman data menggunakan perangkat telepon satelit melalui PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN))
  • Perangkat pendukung: printer, hub, dsb.

Pada Pemilu 2004, implementasi IT KPU melingkupi sekitar 80% coverage nasional (dengan acuan 100% –nya tentu adalah hasil penghitungan manual). Mengapa “hanya” 80%? Ada berbagai alasan, antara lain karena ada banyak wilayah baru hasil pemekaran yang namanya belum “muncul” pada data awal perencanaan IT KPU, atau karena minimnya infrastruktur pada kantor kecamatan yang bersangkutan (tidak ada listrik adalah salah satu faktor paling utama).

Dengan didukung oleh ribuan orang relawan yang terdiri dari pelajar  dan guru-guru SMK dan mahasiswa dari beberapa kampus, implementasi IT KPU 2004 sanggup menyajikan data sampai level yang terendah, yaitu visualisasi hasil perolehan suara di tingkat TPS (Tempat Pemungutan Suara). Data yang disajikan lengkap, mulai dari hasil pemilu legislatif (yang memilih anggota DPRD Kota/Kabupaten, DPRD Propinsi, DPR RI dan DPD). Pada Pemilu 2009 ini, IT KPU hanya akan menampilkan data pada tingkat DPR RI dan DPD (“kehilangan 2 level lain dibanding IT KPU 2004, yaitu DPRD Kota/Kabupaten dan DPRD Propinsi).

Peran Kontrol “Papan Tulis Raksasa” IT KPU

Hasil perolehan suara yang menjadi acuan penetapan hasil akhir adalah hasil penghitungan manual. Hasil tabulasi yang dilakukan oleh “mesin penghitung” pada data center IT KPU adalah sebagai data pembanding dan sebagai kontrol atas manipulasi yang mungkin terjadi.

Idealnya data pembanding ini tentu 100%. Tapi dengan segala keterbatasan, “sampling” 80% adalah nilai yang sangat baik untuk melihat sebuah pola dan juga data akurat untuk pembuktian adanya kecurangan.

Pada implementasi IT KPU di Pemilu 2004, setiap orang yang memiliki akses ke Internet dan membuka situs http://tnp.kpu.go.id dapat melihat dan memeriksa apakah hasil perolehan suara yang ia lihat di TPS-nya sama persis dengan yang tertera di halaman web ini. Jika ternyata angka yang disajikan berbeda, itu artinya terdapat manipulasi. Jika angkanya sama, kita bisa percaya bahwa data sampai di pusat tanpa modifikasi. Jadi, peran IT KPU di sini adalah sebagai alat kontrol yang dapat dipakai oleh masyarakat terhadap kemungkinan adanya kecurangan.

Keberadaan situs tabulasi nasional (TNP: Tabulasi Nasional Pemilu) bisa diibaratkan sebagai papan tulis raksasa, di mana semua hasil “coretan-coretan” rekapitulasi secara nasional ditampilkan. Pada setiap TPS ada papan tulisnya bukan? Di situ anggota KPPS menulis hasil perolehan suara. Jika terdapat salah hitung atau input, saksi resmi dan juga masyarakat bisa langsung protes. Akumulasi dari semua hasil “coretan” tersebut disatukan dan ditampilkan secara “massal” pada papan tulis raksasa yang beralamat di http://tnp.kpu.go.id. “Sifat turunan” alias inherent otomatis juga dimiliki oleh papan tulis raksasa ini. Jika input yang dimasukkan di level bawah salah, maka salah pula-lah data yang ditampilkan. Hasil coret-coretan di papan tulis bukanlah hasil akhir yang dipakai, akan tetapi dijadikan sebagai acuan untuk melaporkan hasil akhir secara resmi pada sebuah TPS (melalui formulir yang ditandatangani bersama oleh KPPS dan saksi-saksi). Demikian juga pada tampilan tabulasi nasional secara teknologi informasi ini.

IT KPU 2009

Pada hari H Pemilu 2009 kemarin (9 April 2009), saya mencoba mengakses alamat http://tnp.kpu.go.id, tetapi sampai malam dicoba selalu gagal. Situs tersebut akhirnya dapat dibuka setelah saya mencoba mengakses melalui jalur-jalur akses (baca: provider Internet) yang berbeda. Namun, tampilan situs masih kosong. Jika dibandingkan dengan waktu yang sama pada Pemilu 2004 (5 April 2009), pada sore hari data sudah mulai meluncur dan tampil di Internet.

Pada hari H+1 (10 April 2009) siang ini, saya kembali mencoba melihat situs tabulasi nasional perolehan suara pada Pemilu 2009 ini. Hasilnya, situs dapat diakses dari provider Internet yang saya pakai (yang kemarin tidak bisa mengakses ke alamat http://tnp.kpu.go.id), namun, data yang ditampilkan bisa dibilang sangat amat minim. Jumlah suara yang ditampilkan sangat jauh dibandingkan H+1 pada Pemilu 5 tahun yang lalu.

Minimnya jumlah total suara yang masuk ke datacenter IT KPU 2009 ini memang menyedihkan. Namun, dengan kompleksitas formulir tabulasi yang harus diisi di tingkat TPS dan tentu implikasinya pada saat input-ing data di tingkat operator lapangan IT KPU, bisa dimaklumi data yang masuk tidak bisa diharapkan cepat. Berdasarkan pengalaman pada IT KPU 2004, ekspektasi masyarakat terlalu besar, dengan menganggap bahwa kalkulasi IT KPU pasti akan “secepat kilat” mengumumkan hasil akhir total perolehan suara. Jarang orang sadar atau mau tahu bahwa IT KPU tidak mungkin dapat berbuat banyak jika di tingkat operator lapangan (dulu di level kecamatan, sekarang di level kota/kabupaten) tidak memasukkan data ke aplikasi IT KPU! Dari mana situs TNP dapat menampilkan data jika tidak ada data yang dimasukkan di tingkat bawah??! Dulu, berbagai sebab musabab terjadinya keterlambatan input data; mulai dari pihak KPPS yang tidak segera memasukkan laporan rekapitulasinya karena ingin laporannya benar-benar valid alias tidak ada kesalahan, ada juga yang pihak kecamatan tidak mengijinkan operator (yang kebanyakan adalah relawan mahasiswa dan pelajar/guru SMK) lembur di kantor kecamatan (harus dikerjakan di jam kerja, padahal jam kerja di kecamatan itu baru mulai jam 10-an, jam 12 sudah istirahat, masuk lagi jam 2 siang, jam 3 sudah mau pulang!)… dapat dibayangkan jika ada kecamatan yang baru bisa melaporkan seluruh data-nya setelah lewat dari 1-2 minggu kemudian!

Dengan segala keterbatasannya, jika 5 tahun lalu jaringan IT KPU mencapai tingkat kecamatan di seluruh Indonesia, kini “mundur” hanya sampai tingkat kabupaten/kota. Namun, “kemunduran” paling utama yang saya lihat adalah hilang-nya fungsi kontrol dan akuntabilitas dalam transparansi hasil Pemilu. Jika pada 5 tahun lalu kita semua dapat melihat dan membuktikan sendiri hasil perolehan suara di TPS kita masing-masing (dengan mencocokkan data yang ada di web), kini tampilan IT KPU tidak lagi menampilkan fitur tersebut.

Tampilan perolehan suara pada situs http://tnp.kpu.go.id kini menurut saya tidak lebih dari perluasan quick count yang banyak muncul belakangan ini. Kenapa begitu? Quick count diselenggarakan untuk menghitung dengan cepat, melalui metode statistik, untuk memprediksi hasil akhir perolehan suara. Kata-kata penting dari quick count adalah hitung cepat, statistik, prediksi dan hasil akhir. Jika sampling data yang dilakukan oleh quick count misalnya hanya 5% dari total populasi TPS (saya belum mendapatkan angka pastinya), IT KPU memberikan “sampling” lebih baik saja (jika mengikuti apa yang terjadi di Pemilu 2004, “sampling” ini mencapai 80-an %). Tidak lebih dari memberikan “sampling” yang lebih baik. Karena kini IT KPU pun sama-sama tidak bisa memvisualisasikan perolehan suara dalam bentuk tabel sampai ke level TPS (setidaknya sampai pada saat saya membuat tulisan ini). IT KPU kini sama seperti quick count. Sama-sama tidak dapat dipakai untuk menunjukkan, apalagi membuktikan adanya manipulasi data, karena data yang ditampilkan “tiba-tiba” ya seperti itu. Tanpa keberadaan drill-down data sampai di tingkat TPS. Dengan sifatnya yang seperti itu, IT KPU 2009 tidak lebih sebagai “quick count” resmi yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum, dengan keutamaan berupa tingkat sampling yang lebih baik (asumsi: 80%). Tidak ada kelebihan lain, selain menjadi lebih mahal secara implementasi (dibanding quick count yang diselenggarakan oleh beberapa lembaga).

Kemampuan “Komando” dan “Penguasaan” Teritorial

Ada banyak orang dengan segudang ide, ada banyak pula orang yang punya segudang kemampuan. Tetapi pada pelaksanaan hajat sebesar IT KPU, yang dibutuhkan tidak sekedar ide dan kemampuan. Pekerjaan sebesar ini merupakan pekerjaan kolosal, pekerjaan yang harus dikerjakan beramai-ramai dan bahu membahu. Membangun sistem dan aplikasi pada datacenter adalah sebuah masalah besar. Tetapi jangan pernah lupa bahwa teknis pelaksanaan di lapangan juga menjadi sebuah masalah lain yang tidak kalah besarnya!

Pernahkah Anda membayangkan, bagaimana mengumpulkan belasan ribu orang relawan dari berbagai unsur pelajar, guru dan mahasiswa di seluruh Indonesia dalam waktu 1 bulan saja? Mengajarkan bagaimana cara menggunakan aplikasi untuk meng-input data di setiap kantor kecamatan yang menjadi pusat entry data… dan juga membangun semangat militan, rasa nasionalisme dan memiliki yang mendalam terhadap sistem IT KPU 2004! Tanpa memiliki kemampuan “komando” dan memiliki jaringan yang luas dan “rembes”, pada siapa kita berharap?  Pada bagian ini-lah yang sepertinya terlupakan oleh banyak orang.

 

Semoga saja dalam beberapa hari ke depan perbaikan sistem pada IT KPU 2009 dapat dilakukan, setidaknya pada Pilpres 2009. Tapi satu yang sudah jelas, ternyata menjadi penghujat itu memang lebih gampang ketimbang menjadi pelaksana :D

Be Sociable, Share!

Related Posts

--related post--
  1. 27 Responses to “IT KPU Jalan Mundur”

  2. By basuki on Apr 10, 2009 | Reply

    Ya ….
    Itulah Indonesia …

  3. By rodin on Apr 11, 2009 | Reply

    input-ing = penginputan, proses pemasukan

  4. By Fajar on Apr 11, 2009 | Reply

    mantap !!
    waktu itu saya juga mo akses tnp kpu juga gak bisa, berbaik sangka saja mungkin provider inet saya yang kacrut bukan kpu nya :)

  5. By zahril on Apr 11, 2009 | Reply

    pas tw ada tabulasi nasional,
    lansung di publish dah di fesbuk…
    sayang pas diakses lagi esoknya, eror2 gitu situsnya… payah!

    nb:
    taon lalu ada web gis nya kan…
    klo tao ini ada g ya?

  6. By Suwahadi on Apr 11, 2009 | Reply

    Mantap om tulisannya.
    Saya akhirnya dapat memberikan penilaian bahwa pemilu 2009 adalah kemunduran dari pemilu sebelumnya (2004). Selain dari segi IT, tentu dari struktural lain yg bisa dikatakan “amburadul”.

    Saya sangat setuju bila pemilu 2004 merupakan terbaik. Bagaimana disini nasionalisme sebagai bagian dari bangsa Indonesia menjadi kian kental laksana di tiap kecamatan dulu benar2 diimplemantasikan system input data seperti yang telah ditulis di atas.

    Moga2, pemilu ke depannya lebih baik lagi :)

  7. By Iwan on Apr 11, 2009 | Reply

    He..he.. Om…Apa veteran2x yang sekarang udah pensiun perlu turun tangan lagi nich di Pilpres ????ke…ke…Denger2x Om Yofi dan Umar udah disana..juga ada Om Fahmi…

  8. By tyo on Apr 12, 2009 | Reply

    berdsarkan info:
    http://us.teknologi.vivanews.com/news/read/48053-melongok_sistem_ti_pemilu_2009
    “….Virtual Private Network Internet Protocol Multiprotocol Label Switching (VPN IP MPLS), yang menghubungkan 33 provinsi dan 471 kabupaten/ kota….”

    “…..Jaringan ini menyediakan backhaul bandwidth sebesar 30 Mbps. Sementara di masing-masing kabupaten/ kota, bandwidth yang disediakan adalah 128 Kbps….”

    artinya untuk backhoul=30 Mbps
    total link: 128 Kbps * 471 kota =60 Mbps..

    arinya link KPU mempunyai utilisasi Link 50%. terlalu kecil. apakah hal itu sudah menjadi pertimbangan pihak telkom? dan team It Kpu.

  9. By Budi Rahardjo on Apr 13, 2009 | Reply

    hi hi hi… veteran IP pemilu 1999 (me) mengomentari IT 2004. Veteran 2004, mengomentari 2009. Nanti Veteran 2009, mengomentari IT 2014. :)

    Mudah-mudahan pelajaran bisa ditarik dari sini semua. Ada beberapa pelajaran yang tetap sama dari masa ke masa, meski teknologi dan permasalahan agak berbeda.

    Selamat bekerja kepada rekan-rekan IT Pemilu 2009. Semoga pilpres bisa lancar.

  10. By waskita on Apr 13, 2009 | Reply

    Ini blog gak resmi IT KPU 2009, untuk perimbangan :) : http://tipemilu2009.wordpress.com/

  11. By bayu on Apr 13, 2009 | Reply

    kenapa gak sistem lama saja di upgrade ya? Kenapa harus sistem baru?
    Apa karena beda konsultan?
    Tapi bisa aja khan pihak KPU sebagai yg jadi ‘bos’ meminta konsultan baru buat upgrade sistem lama..

  12. By Ahmad on Apr 13, 2009 | Reply

    Saya dah gak sabar nunggu review selanjutnya dari mas rahmat tentang IT-KPU 2009 ini,ayo mas review lagi,,kali ini dari sisi biaya atau spekulasi peluang manipulasi data yg masuk,, sekarang rame tuh.Bukannya mau usil sama rezeki orang :),,tapi kan ini tentang masa depan bangsa juga. BTW,,Om Roy kok sepi2 aja ya..?gak ky dulu,,”militan” banget..:)

  13. By Doddi on Apr 13, 2009 | Reply

    tulisan yg bagus, mas…
    nuansa demokrasi yg sebenarnya memang benar terasa di 2004 itu ya…
    siapapun boleh berkomentar dan men-challenge…
    sekarang kita tahu siapa di balik mana…

  14. By andika on Apr 13, 2009 | Reply

    IT KPU 2009 ‘terpaksa’ memilih titik entry data di tingkat kabupaten, karena melakukan pilihan solusi teknologi yang akan sangat jauh lebih repot, mahal, dan tidak feasible untuk diterapkan di level kecamatan: scanner. Tapi saya pikir faktor yang lebih berperan dalam kekacauan IT KPU kali ini adalah waktu persiapan yang lebih singkat. Entah kenapa…

  15. By eri on Apr 13, 2009 | Reply

    Om Zikri, menulis :
    8005 buah PC yang didistribusikan ke 4167 kecamatan (440 kabupaten/kota, 32 propinsi)
    Datanya koq beda dg sy yg waktu itu ikut bantu di team konsorsium.

  16. By ariyo132 on Apr 14, 2009 | Reply

    Analisanya keren. Lengkap dengan data-data angka, dari 2004 maupun 2009.

    Secanggih apapun, IT emang hanya alat, hanya 2 unsur: software dan hardware. Seringkali dalam implementasi sistem IT, kita lupa ada unsur ketiga: brainware. Alias the man behind the gun. Tanpa SDM yg terlatih serta manajemen operasi yang baik pula, senjata canggih dg harga trilyunan pun pasti mlempem.

  17. By Arif Rahmat on Apr 14, 2009 | Reply

    Dikomentari itu memang sakit.
    Kalau di IT KPU 2009 ini, keterlibatan vendor terhadap teknologi yang digunakan sepertinya cukup kental. Entah apakah itu penyebabnya data DPRD I dan II menjadi tidak lagi di-input dan ditampilkan atau mungkin juga karena keterbatasan dana.

  18. By Ahmad on Apr 15, 2009 | Reply

    Mas,saya baca di detik,kpu ngelaporin hacker ke polisi,,yg saya heran emang ada hacker yg napsu nyerang KPU ? wong ga di heck aja udah kacau,atau ini provokasi dari kpu buat cari kambing hitam kegagalan IT-KPU..?kl mas zikri punya kenalan kalangan underground,bilangin jangan kepancing provokasi kpu yg mau melempar kesalahan ya mas,,thanks..

  19. By Oskar RIandi on Apr 16, 2009 | Reply

    Terima kasih Mas Rahmat Zikri atas tulisannya. Menyentuh ke sasaran. Apalagi yang alinea terakhir, hahaha….
    Benar-benar menjadi pelajaran kita bersama.

    Saya pikir, Nasionalisme dan militansi rekan-rekan operator Pemilu 2009 sehebat, atau bahkan lebih hebat dibandingkan Pemilu 2004. Di tengah carut marut SDM yang tidak “tercerahkan” –yang seharusnya menjadi hak mereka– ditambah ketiadaan figur dan struktur komando yang jelas serta proses yang jauh dari kondisi ideal –dengan semangat tinggi– mereka masih tetap bertahan melakukan tugasnya demi kebaikan negeri ini. Rasa nasionalisme itu terderangar nyata dari percakapan telpon di Helpdesk Center KPU maupun Helpdesk ICR. Meskipun tidak dipungkiri ada sebagian dari mereka yang mulai terdengar putus asa.

    Perkenankan saya pada kesempatan ini ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua rekan di KPU Kabupaten/Kota, rekan-rekan di Helpdesk Center dan rekan-rekan penyedia ICR –yang meskipun tiada keharusan bagi mereka untuk menyediakan Helpdesk Center– dengan sabar, bahu membahu, 24 jam penuh, memandu rekan-rekan di KPU Kabupaten/Kota untuk tetap berjuang. Mudah-mudahan amal ibadah rekan-rekan mendapat balasan yang lebih baik dari Allah SWT. Amin.

    Sulit membayangkan, apa yang terjadi seandainya persiapan Pemilu 2004 sama dengan Pemilu 2009; yang HANYA 2 PEKAN. Ya, HANYA 2 PEKAN saja.
    Tim TI Pemilu 2009, praktis baru bekerja akhir Maret 2009 karena berbagai kendala, tender yang lambat, sanggahan terhadap pemenang; banyaknya vendor yang terlibat dalam sistem TI dan sebagainya. Belum lagi memikirkan strategi yang tepat agar sistem ICR yang digunakan dapat robust terhadap variasi tulisan tangan petugas KPPS yang berjumlah lebih dari 519 ribu orang, review dan standarisasi aplikasi, testing dan SOP serta problem-problem lainnya, teknis maupun non-teknis. Tiada waktu tersisa untuk berleha, detik-demi-detik adalah bekerja-dan-bekerja. Mudah-mudahan ini kelak menjadi amal ibadah kami di hadapan-NYA.

    Saya setuju dengan Mas Budi Rahardjo, begitu banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari semua ini. Terima kasih pula buat rekan-rekan atas kritik dan masukannya. Mudah-mudahan ke depan bangsa ini menjadi lebih baik. Amin.

  20. By pecinta indonesia on Apr 16, 2009 | Reply

    baguslah yang dikritik dan diberi masukan
    juga mau untuk melakukan perbaikan,
    dari pada malah marah-marah menanggapi kritik.

  21. By redaksi on Apr 26, 2009 | Reply

    KPU MEMBLE!! GANTI SEMUA ANGGOTANYA

    Pemilu ialah saluran penting bagi pembimbing demokrai Indonesia di 5 tahun mendatang. Dan dari sekian banyak kisah dalam kehidupan demokrasi, yang mengambil peranan penting adalah KPU. Oleh karena itu KPU menepati urutan pertama dalam segala rumusan kesalahan. KPU bertanggung jawab atas segala kesalahan yang di buatnya.

    KPU, lembaga independen di tunjuk pemerintah dalam penyelenggaraan pemilu. Dalam pergaulan sehari-hari ia menjadi poros demokasi. Masyarakat menaruh harapan besar pada KPU.

    Berhari-hari, hingga berbulan-bulan, KPU bekerja. Sekian lama, waktu yang dibutuhkan tapi yang terjadi jauh dari sempurna. Mulai kisruh DPT, tertukarnya surat suara, ketidak independenan KPU membuat tanda tanya besar dalam masyarakat. Ada apa dengan KPU??? KPU tidak becus menyelenggarakan pemilu. KPU tidak bercermin dari kesalahannya yang lalu.

    Oleh karena itu , aku berharap semoga presiden memberi peringatan keras dan memecat semua anggota KPU. Sebelum kita semua celaka karena nya.

    sumber:http://asyiknyaduniakita.blogspot.com/

  22. By Pasa Firaya, ST on May 5, 2009 | Reply

    Berkunjung dan baca infonya, mudah-mudahan bermanfaat bagi banyak orang, sukses ya.
    I Like Relationship

  23. By apakekdah on Jul 3, 2009 | Reply

    “ternyata menjadi penghujat itu memang lebih gampang ketimbang menjadi pelaksana” gw rasa IT KPU khusus untuk pilpres 2009 sudah mulai berbenah, karena ada waktu yg cukup panjang setelah Pileg 2009 kemarin. Sukses Pilpres 2009

  24. By judith on Jul 28, 2009 | Reply

    wakh zik
    tulisan ini jadi buat kangen masa masa nasi padang di IT KPU jaman dulu , mas mu nesu ma petinggi kominfo agar menjamin semua lancar !!
    2004 memang bravo :))

  25. By Rahmat Zikri on May 30, 2010 | Reply

    saya baru buka posting setahun kemudian (Mei 2010). komentar saya singkat saja…. kenyataan telah membuktikan segalanya :D

  1. 3 Trackback(s)

  2. Apr 11, 2009: Tulisanku tentang Pemilu 2009 di milis iscab « Ignatius Sapto Condro Atmawan Bisawarna-warni Wordpress
  3. Apr 13, 2009: Rame-rame IT KPU « Waskita Adijarto
  4. May 30, 2009: Laporan tentang IT-KPU dilihat dari berbagai sudut pandang meliputi permasalahan dan rekomendasi alternatif solusi « Ira safitri

Post a Comment

About Me

The smiling geekIndependent IT Consultant and Trainer, mastering in Microsoft technologies. 13 years experience in all level of systems and network engineering. Currently being awarded as Microsoft MVP in Exchange Server. Live in Jakarta, Indonesia. Claimed himself as a not ordinary geek, who loves photography and hanging out with friends. More.

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Google